Catatan Kuratorial oleh Darmadi H. Tariah
Pameran fotografi Capture Wisata Makassar: Gastronomi Makassar, Jejak Rasa dan Budaya lahir dari keyakinan bahwa piring-piring di kota ini menyimpan lebih banyak hal daripada resep dan daftar bahan. Di dalam Sop Saudara, Coto Makassar, Pallubasa, Mie Titi, Sarabba, Pisang Epe, sampai hiruk-pikuk Pasar Terong dan riuh Tempat Pelelangan Ikan Paotere, tersimpan jejak panjang pertemuan orang, barang, dan gagasan. Melalui fotografi, pameran ini mengajak pengunjung membaca kembali Makassar bukan hanya sebagai destinasi kuliner, tetapi sebagai kota yang identitasnya dibentuk oleh laut, perdagangan, dan perjumpaan lintas budaya.
Gagasan kuratorial pameran ini bertumpu pada keyakinan bahwa gastronomi adalah cermin identitas kota. Makassar tumbuh sebagai bandar rempah, titik singgah kapal dari dan menuju berbagai penjuru Nusantara dan dunia. Di pelabuhan inilah rempah, beras, gula, ikan, dan aneka komoditas lain berjumpa, berpindah tangan, lalu masuk ke dapur-dapur rumah, warung, dan pasar. Karena itu, ketika kita menatap sepotong jalangkote, semangkuk coto, sepotong barongko, atau sepiring ikan bakar, yang hadir bukan hanya kelezatan, lebih dari itu, ada jejak sejarah pelaut, saudagar, migran, dan masyarakat pesisir yang menegosiasikan hidupnya di antara gelombang, kekuasaan, dan jaringan perdagangan.
Fotografi dalam pameran ini digunakan sebagai jendela untuk membaca ulang identitas tersebut. Setiap foto bukan hanya menampilkan makanan sebagai objek, tetapi juga membuka lanskap yang lebih luas dengan menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang memasak, dari mana bahan didapat, bagaimana ruang sosial yang mengelilinginya, dan ingatan apa yang diziarahi ketika hidangan disajikan. Dalam kerangka ini, hidangan-hidangan khas Makassar diperlakukan sebagai arsip hidup dari peradaban rasa, yaitu peradaban yang dibentuk oleh arus rempah yang dahulu mengalir dari Makassar menuju Barat dan Utara, membentuk cita rasa di tempat-tempat yang bahkan mungkin tidak pernah kita kunjungi secara fisik.
Politik Representasi: Dari Objects of Food ke Agents of Food
Salah satu pertanyaan kunci dalam kurasi pameran ini adalah siapa yang terlihat dalam bingkai, dan siapa yang selama ini berada di belakang layar. Dalam banyak praktik promosi kuliner, yang ditonjolkan kerap adalah piring yang rapih, sudut pengambilan gambar yang indah, dan dekorasi yang terukur. Di pameran ini, kami mencoba menggeser fokus tersebut latar budaya dan sejarahnya, orang-orang yang membuatnya mungkin sampai hadirnya makanan yang tersaji di atas meja.
Karena itu, lensa para fotografer diarahkan kepada penjual di warung pinggir jalan, juru masak rumahan, nelayan yang mengangkat ikan di Paotere, pedagang di Pasar Terong, hingga ibu-ibu yang menyiapkan hidangan keluarga di dapur sempitnya, juga di meja-meja warung makan dan resto.
Mereka adalah aktor utama dalam ekosistem gastronomi Makassar. Dengan menghadirkan mereka di dalam frame, pameran ini mendorong pergeseran cara pandang, yaitu dari objects of food ke agents of food, di mana bukan lagi makanan yang berdiri sendiri, melainkan relasi sosial yang menopang hadirnya makanan tersebut ke meja kita.
Pendekatan ini juga membuka diskusi tentang tenaga kerja, kelas sosial, gender, dan usia. Dalam banyak foto, kita melihat perempuan mengelola dapur, anak muda bekerja di kafe modern, laki-laki tua menggiling bumbu di pasar, atau keluarga yang berbagi tugas di warung Sarabba. Ini menyingkap lapisan-lapisan kekuasaan, pembagian peran domestik dan publik, serta cara komunitas menjaga keberlanjutan tradisi kuliner di tengah perubahan ekonomi dan gaya hidup.
Bahasa Cahaya, Tekstur, dan Atmosfer
Fotografi kuliner punya kemampuan istimewa untuk membangkitkan indera. Dalam pameran ini, kekuatan itu berasal dari cara fotografer memperlakukan cahaya, tekstur, dan atmosfer. Kita menyaksikan asap yang terangkat pelan dari panci coto di pagi hari, kilau minyak pada sate dan ikan bakar di malam yang lembap, warna bumbu yang berserakan di lapak pasar, serta dapur rumah yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan dan dinamika.
Pilihan sudut pandang yang sering kali dekat, rendah, dan intim mengajak pengunjung merasakan kedekatan emosional dengan apa yang ditampilkan. Kita seolah bisa mencium harum bumbu tumis, merasakan panasnya wajan, atau mendengar percakapan pelan di warung kopi tua yang menjadi ruang temu generasi berbeda. Dalam foto-foto tentang Kopi Makassar, misalnya, kita melihat bagaimana cangkir-cangkir sederhana di warung lama berdialog diam-diam dengan gelas bening di kafe modern yang menggambarkan dua dunia yang tampak berbeda, namun tersambung oleh rutinitas minum kopi sebagai ritual sosial.
Pendekatan visual ini menolak menjadikan makanan hanya sebagai “produk” yang rapi dan steril. Sebaliknya, ia merangkul tumpahan kuah, noda minyak di meja, kepulan asap, dan latar yang ramai sebagai bagian dari narasi. Pada titik itulah atmosfer kota Makassar terasa sebagai kota yang tidak dipoles hingga kehilangan karakter, melainkan kota yang hidup, bising, dan penuh gerak.
Merekam Kerja, Emosi, dan Ekosistem Sosial
Pameran ini juga berusaha menempatkan kerja sebagai elemen penting dalam cerita gastronomi. Banyak foto menangkap momen yang sering terlewat, seperti tangan yang mengiris bawang dan cabai, wajah yang berkerut menahan panas ketika memanggang ikan, percikan minyak saat bumbu disangrai, meja persiapan yang dipenuhi bahan, hingga tatapan penuh konsentrasi saat seorang ibu mengecek kembali rasa kuah sebelum disajikan kepada pelanggan.
Momen-momen kecil inilah yang membangun ekosistem sosial kuliner Makassar. Tanpa keterampilan yang diwariskan turun-temurun, tanpa ketekunan pelaku UMKM, tanpa kedisiplinan nelayan yang berangkat dini hari, tidak akan ada Sop Saudara di pinggir jalan, tidak akan ada Sarabba yang menghangatkan malam, tidak akan ada Coto Makassar yang menjadi kebanggaan kolektif. Dengan menjadikan momen kerja ini sebagai subjek foto, pameran ini memberikan penghormatan kepada orang-orang yang menjaga hidupnya tradisi kuliner.
Di beberapa karya, kita juga melihat interaksi antara penjual dan pembeli seperti tawa ringan saat tawar-menawar di pasar, candaan di warung Pallubasa, atau gestur akrab di lapak Pisang Epe Pantai Losari. Di titik-titik ini, makanan menjadi mediator relasi sosial, membangun keakraban, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap kota.
Gastronomi, Komersialisasi, dan Pariwisata
Makassar hari ini berada di simpang jalan antara tradisi dan komersialisasi. Di satu sisi, kota ini tengah menguatkan posisinya sebagai kota kuliner, bahkan menyiapkan diri untuk diusulkan sebagai Kota Gastronomi Dunia pada 2027. Di sisi lain, tekanan untuk menyajikan makanan yang “instagrammable”, mudah dipasarkan, dan sesuai selera wisatawan global mulai terasa.
Sebagai kurator, saya memandang penting untuk menempatkan pameran ini sebagai ruang refleksi atas ketegangan itu. Fotografi-fotografi yang ditampilkan tidak menutupi kenyataan bahwa dunia digital mendorong standarisasi visual, sebut saja piring yang harus simetris, warna yang cerah, latar yang bersih. Namun, pameran ini juga menunjukkan bahwa kuliner Makassar memiliki kekhasan yang tidak bisa begitu saja dirapikan tanpa risiko mengikis jati diri.
Dengan menampilkan dapur yang sempit, warung yang berdesakan, atau pasar yang tampak “berantakan”, pameran ini ingin menegaskan bahwa keindahan gastronomi Makassar tidak selalu berada di ruang yang teratur. Keindahan itu justru lahir dari kepadatan, dari lapisan-lapisan suara dan berbagai aroma, dari campuran bahasa yang terdengar di satu lorong pasar, dari papan menu yang ditulis tangan, dari gelas-gelas kopi yang retak di tepiannya. Di titik inilah pameran mengambil jarak dari visual promosi yang serba mulus, dan memilih menampilkan realitas sebagaimana ia dirasakan keseharian warga.
Ruang Makan sebagai Ruang Kebudayaan
Dalam seluruh rangkaian foto, ruang makan dan ruang produksi kuliner tampil sebagai ruang kebudayaan. Kita melihat warung kaki lima yang sederhana, pasar tradisional yang berjejalan, dapur rumah yang hangat, kafe modern yang higienis, hingga tepi pantai yang menjadi ruang berbagi pisang epe di malam hari.
Setiap ruang membawa nilai, norma, dan praktik sendiri. Di warung sop saudara, misalnya, orang bertemu sebelum beraktivitas pagi, menjadikan makanan sebagai pengikat ritme harian. Di kafe modern, anak muda menggunakan kopi sebagai alasan untuk bekerja, berdiskusi, atau menciptakan konten. Di dapur rumah, ibu dan anak belajar mengolah resep keluarga, mempertahankan rasa yang diingat dari masa kecil. Semua ruang ini direkam sebagai lanskap sosial, bukan hanya sebagai latar belakang.
Dengan demikian, pameran ini mengajak pengunjung membaca cara makan, cara duduk, jarak antarbangku, posisi dapur terhadap meja, hingga penataan bahan di pasar sebagai teks budaya. Gastronomi hadir sebagai praktik hidup yang memuat gagasan tentang kebersamaan, hierarki, etika tubuh, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Fotografi sebagai Arsip Kuliner
Salah satu motivasi kuratorial yang kuat adalah kebutuhan untuk mengarsipkan praktik kuliner yang mulai terdesak waktu. Di berbagai kota, termasuk Makassar, perubahan pola konsumsi, modernisasi alat dapur, hadirnya makanan siap saji, dan ritme kerja yang kian cepat membuat banyak kebiasaan makan berubah. Ada teknik memasak yang mulai jarang dilakukan, bahan lokal yang makin sulit ditemukan, hingga ritual makan keluarga yang perlahan digantikan oleh aktivitas makan sendiri-sendiri.
Dalam konteks ini, fotografi diposisikan sebagai alat pengarsipan visual. Setiap foto dalam pameran dapat dibaca sebagai catatan untuk generasi mendatang yang merekam rupa dapur kita hari ini, posisi kompor, cara bumbu disusun, bentuk meja di warung Sarabba, cara ikan ditata di Paotere, serta ekspresi orang ketika menyuap Pallubasa pertamanya. Dengan menyimpan semua itu dalam bentuk gambar, kita tidak hanya menjaga tampilan makanan, tetapi juga cara hidup yang menyertainya.
Arsip visual semacam ini akan memiliki peran penting ketika suatu saat nanti anak-anak muda Makassar berusaha melacak jejak kuliner leluhurnya. Mereka mungkin akan menemukan bahwa beberapa teknik, alat, atau bahan sudah berubah atau bahkan hilang. Pada titik itulah pameran ini diharapkan berfungsi sebagai penanda bahwa pada suatu masa, gastronomi Makassar dijalani dengan cara tertentu, di ruang tertentu, oleh orang-orang tertentu.
Kolaborasi dan Etika Representasi
Pameran Capture Wisata Makassar juga dibangun di atas prinsip kolaborasi antara fotografer dan komunitas. Banyak foto lahir dari proses dialog, saling percaya, dan saling memahami konteks. Pendekatan ini penting agar subjek foto tidak diperlakukan hanya sebagai objek dokumentasi, tetapi sebagai mitra yang dihormati.
Dalam prosesnya, para fotografer diajak untuk memikirkan soal izin, privasi, dan sensitivitas budaya. Memotret orang yang sedang memasak di dapur rumah, misalnya, bukan hanya persoalan teknis cahaya dan komposisi, tetapi juga soal bagaimana menghargai ruang domestik sebagai ruang intim. Memotret di pasar menuntut kepekaan terhadap ritme kerja pedagang, agar kehadiran kamera tidak mengganggu alur aktivitas mereka.
Di sisi lain, pameran ini diharapkan menjadi ruang belajar lintas generasi. Generasi muda bisa mengenal akar kulinernya melalui gambar-gambar yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, sementara generasi lebih tua dapat melihat tradisi mereka diangkat dan dirayakan di ruang publik. Bagi pengunjung dari luar Makassar, rangkaian foto ini menjadi semacam kamus visual tentang kota, mulai dari apa yang dimakan, di mana orang berkumpul, bagaimana mereka berbagi makanan, hingga nilai yang mengikat semua itu.
Tradisi, Inovasi, dan Masa Depan Gastronomi Makassar
Pada akhirnya, catatan kuratorial ini memandang gastronomi Makassar bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi juga sebagai medan masa depan. Di satu sisi, ada tantangan keberlanjutan pangan lokal, tekanan globalisasi rasa, dan perubahan iklim yang mengancam ketersediaan bahan. Di sisi lain, ada energi kreatif anak-anak muda Makassar yang terus bereksperimen: mengolah menu klasik dengan pendekatan baru, mengawinkan resep tradisional dengan teknik modern, atau membawa Coto dan Konro ke panggung internasional melalui festival dan platform digital.
Pameran fotografi ini ingin berdiri di titik temu antara tradisi dan inovasi. Dengan menampilkan warung lama dan kafe baru dalam satu ruang, Pasar Terong dan ruang makan modern dalam satu narasi, pameran ini menegaskan bahwa masa depan gastronomi Makassar tidak harus memilih secara biner antara yang “asli” dan yang “baru”. Masa depan justru bisa lahir dari dialog yang jujur mengenai cara menjaga prinsip rasa, menghormati asal-usul, sekaligus membuka ruang bagi kreativitas generasi sekarang.
Melalui detail bahan, teknik memasak, ekspresi wajah, dan suasana ruang makan, pameran Capture Wisata Makassar: Gastronomi Makassar, Jejak Rasa dan Budaya menyajikan sebuah potret kota yang hidup dalam ritme, rasa, dan tradisi. Kota ini bukan hanya latar, tetapi subjek yang terus menulis dirinya sendiri melalui makanan yang dimasak, dibagi, dan dirayakan.
Catatan kuratorial ini, karenanya, bukan penutup, melainkan undangan. Undangan bagi kita untuk lebih peka terhadap apa yang ada di piring, untuk melihat dapur dan warung sebagai ruang pengetahuan, untuk menghargai kerja-kerja kecil di balik setiap hidangan, dan untuk membayangkan masa depan di mana gastronomi Makassar tetap berakar di tanahnya sendiri, sambil berjejaring dengan dunia.
*foto: Hasrul Said






