Bagian III dari Tetralogi Esai Reflektif Observasi Sosio-Ekologis Sembilan Puncak Pegunungan Latimojong (23-27/03/2026) oleh Darmadi H. Tariah
Entah telah berapa kali saya mengalami pagi di Rante Kambola. Setiap pagi itu pasti berbeda, demikian juga hari ini.
Di ujung fajar, riuh rendah terdengar di luar tenda. Banyak orang di Rante Kambola sedang berburu momen, menyaksikan matahari terbit sebentar lagi.
Saya bergegas subuhan di sisa waktu yang semakin berlalu. Ada dorongan kuat untuk segera bersujud, mengakui segalanya, mensyukuri segalanya, dan menghambakan segalanya.
Karunia pendakian sampai pagi ini tak terperi.
Pagi yang benar-benar istimewa, cerah. Berbeda dengan kemarin yang muram. Istrahat semalam juga sangat baik. Badan jauh lebih segar, bangun lebih bergairah.
Kesentosaan pagi ini adalah perpanjangan keutuhan malam tadi.
Malam di Rante Kambola, saya rasakan, adalah salah satu malam yang paling utuh dalam perjalanan ini. Dingin tetap menggigit, lebih dari sebelumnya, tetapi kehangatan yang bergelora hadir dari kehebohan sederhana memasak bersama, dari tawa yang tidak dibuat-buat, dari makanan yang mungkin biasa saja, tetapi terasa sangat layak di tempat seperti ini.
Barangkali bukan makanannya yang istimewa, tetapi keadaan yang membuatnya demikian.
Kami makan dengan tenang. Tidak berlebihan. Seolah-olah tubuh dan pikiran sedang sama-sama menemukan titik seimbangnya.
Saya sempat mengingat kembali rencana awal perjalanan ini. Observasi ini tidak dirancang untuk lintas sembilan puncak. Kami hanya berencana melintasi enam puncak, lalu turun melalui Karangan. Rencana yang kami anggap terukur, yang masuk akal, yang tidak terlalu memaksa.
Tetapi, seperti yang perlahan saya pelajari sejak hari pertama, gunung seringkali memiliki rencananya sendiri.
Sore sebelumnya, saya telah mengiyakan ajakan Abdil dan Zahrir, Tim Vocational Adventure, untuk melanjutkan lintasan hingga sembilan puncak. Keputusan yang sederhana dalam penyampaiannya, tetapi membawa konsekuensi yang tidak kecil. Artinya, perjalanan ini tidak lagi tentang mencapai titik tertentu lalu kembali. Kami akan terus bergerak, melintasi puncak-puncak berikutnya, tanpa kembali ke Rante Kambola.
Kami bersepakat melanjutkan observasi lintas sembilan puncak. Tetap terukur, dan juga masuk akal. Dua pilihan ini esensinya sama saja, perjalanan turun gunung.
Ada binar harapan yang menyertai keputusan itu, memikirkan kejutan-kejutan apa yang akan dihadiahkan empat puncak berikutnya.
Tidak ada keraguan, meski menyadari bahwa langkah yang diambil ini akan membawa kami lebih jauh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Lewat tengah malam, kami terbangun.
Dari tenda sebelah terdengar keriuhan kecil. Orang-orang keluar, menunjuk ke langit. Saya ikut keluar. Tidak ada awan yang mengganggu. Bintang-bintang bertaburan, bersinar dengan terang yang terasa begitu dekat.
Momen seperti itu sulit diabaikan.
Kami berdiri cukup lama di luar tenda, membiarkan dingin menembus jaket, sambil menatap langit yang seolah membuka dirinya tanpa batas.
Langit lengang, hanya ada bintang-bintang. Hening yang dalam, tetapi tidak kosong.
Istirahat berlanjut, lelap dan tersenyum penuh arti hingga fajar menyingsing.
Pagi ini, kami jalani lebih lambat lagi.
Seperti ada keinginan untuk menahan waktu, meskipun kami tahu itu tidak mungkin. Sarapan berlangsung santai. Tidak ada yang terburu-buru merapikan perlengkapan. Bahkan, saya sempat melakukan sesuatu yang sejak lama ingin saya lakukan di tempat ini.
Di sekitar telaga Rante Kambola, batu-batu kecil berserakan di padang luas. Selama ini saya melihatnya digunakan untuk hal-hal sederhana. Ada yang menulis nama, menyusunnya menjadi bentuk kuburan, atau sekadar menumpuknya tanpa tujuan jelas.
Pagi ini, saya mencoba membuat sesuatu.
Dibantu Zulqadar, saya menyusun kerikil-kerikil itu menjadi dua karya. Yang pertama saya beri judul Pusaran Angin, yang kedua Kepala Batu. Tidak ada ambisi besar dalam membuatnya. Hanya keinginan untuk meninggalkan jejak yang berbeda.
Kepala Batu tidak bertahan lama. Tidak sampai sepuluh menit, bentuknya sudah berubah oleh tangan orang lain. Saya tidak merasa terganggu. Di tempat seperti ini, tidak ada kepemilikan yang benar-benar utuh. Semua orang bebas membuat, bebas mengubah.
Barangkali memang begitu seharusnya.
Pusaran Angin mungkin bertahan lebih lama, atau mungkin tidak. Saya tidak menunggunya.
Dari arah perkemahan, saya mendengar suara tangis.
Pelan, tetapi jelas.
Suara itu terasa jujur. Ada sesak yang tertumpah. Ada beban yang diurai, gunung memeluk semuanya. Melapangkan dada yang sebelumnya terhimpit aneka rasa, menjadi lebih lowong seluas bentangannya. Gunung menyembuhkan mereka yang yang melipur kepadanya. Semoga!
Saya teringat perkataan seorang bijak bestari:
“Berbahagialah manusia yang memiliki mata untuk menangis dan hati untuk mencinta.”
Mungkin di tempat seperti inilah, kalimat itu menemukan maknanya.
Kami baru benar-benar berjalan menjelang pukul sebelas siang.
Tujuan kami hari ini menuju Nene Mori dan akan berkemah di Pos VI jalur Karuaja. Saya belum pernah mendengar cerita tentang arti kata Nene Mori, kecuali dari guru saya yang pernah mengatakan bahwa itu adalah nama seorang putri pemimpin suku di dataran luas Mongolia. Sedangkan Nene sendiri dalam bahasa Duri bisa berarti kakek atau nenek, sebab kata ini genderless, berlaku bagi perempuan maupun laki-laki.
Turunan dari Rante Kambola terasa ringan di awal. Namun perlahan, jalur kembali menanjak. Di sanalah saya merasakan hal yang berbeda. Ruang yang belum pernah saya masuki sebelumnya.
Saya baru pertama kali menuju Nene Mori.
Dan entah mengapa, sejak langkah pertama di jalur itu, ada kesan yang tidak biasa. Lebih sunyi. Lebih alami. Jejak manusia lebih minim. Sampah lebih sedikit. Yang lebih terasa justru tanda-tanda lain, jejak alam liar, bekas perburuan.
Bagian ini terasa lebih apa adanya.
Saya sempat berpikir bahwa jarak ke Nene Mori tidak terlalu jauh ketika melihatnya dari Rante Kambola. Tetapi menjalaninya terasa berbeda. Lebih panjang. Lebih dalam.
Dan entah bagaimana, semakin jauh saya berjalan, semakin jauh pula ingatan saya ditarik ke masa lalu.
Masa ketika saya pertama kali mendaki.
Saat itu, saya belum mengenal keindahan gunung seperti sekarang. Yang saya tahu, saat itu tubuh saya lebih kuat, langkah saya lebih ringan, dan mungkin pikiran saya lebih sederhana.
Di tim kami, ada dua orang yang baru pertama kali mendaki, Tasnim dan Rifai.
Tasnim, saya perhatikan, berjalan dengan sangat kuat. Tidak ada raut ragu di wajahnya. Tidak juga tanda-tanda kelelahan yang berlebihan. Saya seperti melihat diri saya sendiri di masa lalu, dalam bentuk yang lebih segar.
Semakin lama, akhirnya saya mendengar suara rekan-rekan yang tadinya berjalan lebih kuat di depan. Saya yakin mereka di puncak, dan itu sudah dekat.
Rifai berjalan di belakang saya. Tertinggal beberapa menit.
Ketika saya tiba di puncak Nene Mori, saya yakin tiga teman kami telah cukup lama di sana. Keringat mereka bahkan sudah mengering. Saya berdiri sejenak di puncak itu.
Nene Mori memang berbeda.
Tidak seramai puncak sebelumnya. Tidak pula sepi sepenuhnya. Tetapi ada rasa yang tidak saya temukan di tempat lain sepanjang perjalanan ini.
Di puncak ini, saya merasa berani mengeja jawaban atas pertanyaan yang sejak awal terus mengikuti langkah saya.
Mengapa saya melakukan perjalanan ini?
Bagi saya, pendakian ini bukan tentang menaklukkan puncak. Bukan pula tentang membuktikan sesuatu kepada orang lain. Ini adalah cara saya kembali ke ruang yang saya kenal sebagai zona aman.
Gunung, sebagai ciptaan adalah makhluk, tetapi saya anggap sebagai salah satu ayat Tuhan, yang perlu dibaca sebaik-baiknya. Di dalamnya, saya rela memasrakhan dan menggantungkan segalanya, selayak-layaknya.
Gunung adalah ruang di mana saya merasa paling diawasi sekaligus paling dijaga, paling disayangi. Ruang di mana lelah dan letih disyukuri, bukan dikeluhkan. Ruang di mana empat burung dalam Al Baqarah paling gampang ditaklukkan. Ruang di mana perjuangan menjadi sangat pribadi, yang direbahkan dalam singgasana diri yang paling rahasia.
Diresapi saja. Tidak perlu dibandingkan.
Dan mungkin, di ruang seperti inilah, segala sesuatu yang selama ini terasa rumit, perlahan menjadi lebih sederhana.
Saya berdiri lebih lama di Nene Mori dibanding di puncak sebelumnya.
Bukan karena pemandangannya semata, tetapi karena ada sesuatu yang ingin saya pahami lebih jauh.
Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa.
Dan di tengah semua itu, saya kembali diingatkan pada hal yang sejak awal tidak pernah benar-benar hilang dari perjalanan ini.
Jejak manusia.
Meskipun di jalur menuju Nene Mori relatif lebih bersih, ingatan tentang sampah di jalur sebelumnya tetap tinggal. Kontras itu terasa jelas. Di satu sisi, ada ruang yang masih terjaga. Di sisi lain, ada ruang yang perlahan rusak oleh ketidaksadaran.
Saya kembali pada satu batas yang sederhana.
Jangan merusak.
Barangkali, pada akhirnya, itulah inti dari semua perjalanan ini.
Bukan seberapa jauh kita berjalan.
Bukan seberapa tinggi kita mencapai.
Tetapi bagaimana kita hadir, dan apa yang kita tinggalkan.





