Membaca Makassar Lewat Praktik Desain Arsitektur

Membaca Makassar Lewat Praktik Desain Arsitektur

Read Time:2 Minute, 18 Second

CELEBES IMAGES, Makassar – Arsitektur kembali ditempatkan sebagai medium dialog antara manusia, ruang, dan kebudayaan melalui East Design Festival 2025 (EDF 2025). Selama tiga hari pada 12 hingga 14 Desember 2025 festival ini menghadirkan pertemuan gagasan, karya, dan pengalaman arsitektur yang berangkat dari konteks sosial serta tantangan kota masa kini di Makassar.

EDF 2025 digagas oleh Ikatan Arsitek Indonesia Sulawesi Selatan. Organisasi profesi tersebut merancang festival sebagai ruang temu yang terbuka. Masyarakat umum menjadi bagian penting dalam perayaan ini. Komunitas kreatif hadir dengan beragam inisiatif. Akademisi dan praktisi terlibat aktif dalam diskusi serta pertukaran gagasan. Generasi arsitek muda memperoleh ruang untuk menampilkan karya. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk mendorong partisipasi lintas kelompok dan keterbukaan ide.

Dalam festival ini, pengunjung disuguhi pameran karya arsitek muda. Karya yang ditampilkan merepresentasikan gagasan desain kontemporer. Banyak karya berangkat dari konteks sosial dan budaya lokal. Ruang pamer juga diisi produk serta material bangunan arsitektural. Beragam inovasi material diperkenalkan kepada publik. Informasi tentang teknologi dan tren desain menjadi bagian dari pengalaman pengunjung. Pameran ini membuka wawasan baru tentang praktik arsitektur masa kini.

Benteng Rotterdam terasa semakin hidup selama festival berlangsung. Berbagai seminar dan diskusi digelar di dalam kawasan bersejarah tersebut. Topik yang dibahas menyentuh peran arsitek dalam pembangunan kota. Isu inklusivitas dan keberlanjutan menjadi perhatian utama. Nilai kearifan lokal memperoleh ruang pembahasan. Talkshow menghadirkan dialog antara arsitek dan pemangku kepentingan. Forum Arsitek Jong East membuka percakapan lintas generasi. Gagasan kolaborasi tumbuh melalui pertemuan yang intens dan terbuka.

EDF 2025 juga menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi pengunjung. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Arsirun Makassar Heritage. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk lari santai. Peserta diajak menyusuri kawasan bersejarah kota. Rute dimulai dari kawasan tersebut. Jejak arsitektur lama menjadi latar perjalanan. Aktivitas ini mempertemukan olahraga dengan apresiasi terhadap warisan kota.

Di sisi lain, EDF 2025 menjadi ruang apresiasi bagi generasi muda. Ajang kompetisi mewarnai rangkaian acara. Karya mahasiswa arsitektur mendapat sorotan khusus. Sejumlah perguruan tinggi mengirimkan wakil terbaiknya. Penghargaan diberikan kepada karya yang dinilai inovatif dan kontekstual. Pencapaian ini mencerminkan dinamika pendidikan arsitektur di Sulawesi Selatan. Festival tampil sebagai panggung bagi lahirnya gagasan segar tentang masa depan kota.

Narasi desain yang dipamerkan memperkaya pengalaman publik. Pengunjung diajak melihat arsitektur sebagai praktik sosial. Setiap karya memuat relasi antara ruang dan manusia. Pendekatan lintas disiplin terasa kuat. Kreativitas hadir bersama kesadaran lingkungan. Kritik terhadap ruang hidup tersampaikan secara visual. EDF 2025 menegaskan peran desain dalam kehidupan kota. Arsitektur tampil sebagai gagasan yang berpijak pada realitas sehari-hari.

*Editor: Darmadi H. Tariah, Pewarta: Nurwijaya Hariadi, Fotografer: Agung Fadriansyah