CELEBES IMAGES, Takalar — Sungai Cikoang di Desa Cikoang, Kecamatan Mangarabombang, Takalar, kembali semarak pada Minggu (21/9/2025). Ribuan warga berbondong-bondong memadati tepian sungai, menyaksikan kapal-kapal hias julung-julung merapat ke tepain membawa bakul berisi nasi, ayam kampung, telur, dan berbagai barang sandang. Inilah puncak perayaan Maudu Lompoa, tradisi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat keturunan Sayyid Al-Aidid.
Suasana kali ini terasa berbeda. Setelah meredup selama pandemi Covid-19, Maudu Lompoa kembali berlangsung dengan gegap gempita. Anak-anak berlarian di antara kerumunan, para lelaki menggotong kapal hias yang mengusung baku maudu, sementara kaum ibu dan para gadis turut serta mengarak di belakangnya. Di langit Cikoang, doa dan shalawat menggema, berpadu dengan lantunan musik tradisional yang mengiringi jalannya ritual.
Bagi masyarakat Cikoang, Maudu Lompoa adalah ungkapan cinta kepada Nabi, penegasan jati diri, dan janji kolektif untuk menjaga akar sejarah. Lebih dari sebuah ritual, ia menjadi ruang sosial yang memperkuat ikatan kekeluargaan, mempertebal penghambaan, sekaligus menegaskan kebersamaan.
Kapal julung-julung berwarna-warni yang melintasi Sungai Cikoang menambah khidmat suasana. Hiasan kain, sarung, dan anyaman lontar memperlihatkan kreativitas sekaligus penghormatan pada leluhur. Di atas kapal itu tersusun baku maudu berisi aneka pangan, simbol rezeki yang diyakini membawa keberkahan. Setelah doa bersama, seluruh isi bakul dibagikan kepada masyarakat, menciptakan rasa kebersamaan yang merata di antara warga tanpa memandang perbedaan.
Di tepian sungai, kebersamaan begitu terasa. Kaya maupun miskin duduk berdekatan, meneguhkan cinta kepada Rasulullah dan mengharapkan keberkahan dari Yang Maha Kuasa. Dinamika perayaan berjalan seperti musik ritmis: setiap orang memainkan peran, menyatu dengan lantunan shalawat dan riuh tepuk tangan penonton. Suasana itu semakin kuat dengan ribuan pengunjung dari berbagai daerah yang larut dalam kegembiraan bersama warga Cikoang.
Keyakinan masyarakat terhadap kelanggengan Maudu Lompoa pun tampak jelas. Tradisi ini dipandang sebagai warisan yang tidak akan hilang selama komunitas masih hidup di tanah leluhur mereka. Pandemi pernah menjadi ujian berat, tetapi tahun ini masyarakat seolah menegaskan melalui laku bahwa mereka tidak ingin tradisi ratusan tahun ini berakhir di masa mereka.
Matahari mulai condong ke barat ketika kapal-kapal hias menjauh dari pusat perayaan, meninggalkan jejak riuh di tepian sungai. Gema shalawat serasa masih menggantung di udara, berpadu dengan senyum bahagia warga yang baru saja merayakan hari besar mereka. Dari wajah-wajah itu terpancar keyakinan bahwa Maudu Lompoa adalah denyut kehidupan yang terus diwariskan, sama seperti Sungai Cikoang yang tak pernah berhenti mengalir, meneguhkan bahwa tradisi ini akan tetap abadi.
*Foto dan teks: Darmadi H. Tariah



























