CELEBES IMAGES – Di balik dentingan logam yang berpadu dalam irama kerja para pengrajin besi di Kelurahan Maseppe, Kabupaten Sidrap, tersembunyi sebuah kenyataan yang kerap terabaikan, ancaman penyakit akibat kerja (PAK).
Dalam semangat mereka menciptakan perkakas rumah tangga hingga alat pertanian, banyak di antara pengrajin belum menyadari bahwa aktivitas sehari-hari mereka membawa risiko serius bagi kesehatan jangka panjang.
Pengrajin logam seperti yang kita temui di Maseppe merupakan kelompok pekerja informal yang sebagian besar bekerja secara mandiri atau dalam unit usaha mikro keluarga.
Tanpa pelindung diri yang memadai, tanpa ventilasi yang baik, serta tanpa pengetahuan tentang bahan berbahaya yang digunakan, mereka sangat rentan terhadap berbagai jenis PAK, seperti gangguan pernapasan, gangguan pendengaran, kelainan otot dan tulang, serta bahkan potensi keracunan logam berat seperti timbal dan logam lain yang terkandung dalam bahan baku.
Sayangnya, belum banyak data spesifik yang mendokumentasikan kondisi kesehatan kerja para pengrajin lokal, apalagi di wilayah seperti Maseppe.
Namun, hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengungkapkan bahwa sebagian besar pengrajin tidak mengetahui secara memadai apa itu penyakit akibat kerja dan bagaimana cara mencegahnya.
Penyakit akibat kerja bukan hanya disebabkan oleh kecelakaan sesaat. PAK berkembang perlahan, seiring waktu, karena paparan terhadap faktor risiko yang terus-menerus di tempat kerja.

Misalnya, penggunaan alat kerja bertenaga tinggi yang menghasilkan getaran bisa menyebabkan sindrom getaran tangan-lengan.
Suara mesin las dan pemotong logam yang bising juga bisa menyebabkan gangguan pendengaran perlahan namun pasti.
Yang lebih mengkhawatirkan, dalam kegiatan wawancara dan observasi di lapangan, ditemukan bahwa penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan pelindung telinga masih sangat minim.
Bukan karena tidak tersedia, melainkan karena rendahnya kesadaran akan pentingnya APD tersebut. Beberapa pengrajin bahkan menganggap gangguan kesehatan sebagai ‘resiko biasa’ dalam bekerja.
Menjawab persoalan tersebut, tim pengabdian dari Universitas Muslim Indonesia melakukan pendekatan edukatif berbasis budaya lokal.
Sosialisasi mengenai bahaya PAK disampaikan dengan metode partisipatif, diskusi kelompok, simulasi penggunaan APD, serta pemutaran video sederhana tentang PAK. Strategi ini ternyata lebih mudah diterima dibanding pendekatan formal yang kaku.
Selain itu, tim juga memperkenalkan pentingnya ventilasi alami dan ergonomi kerja sederhana yang dapat diterapkan tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Misalnya, dengan memodifikasi posisi duduk atau membuat celah sirkulasi udara di bengkel kerja. Upaya kecil ini bisa berdampak besar dalam jangka panjang.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi pengrajin besi.
Pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan dinas tenaga kerja perlu mengambil peran lebih aktif dalam memberi pelatihan, penyuluhan, serta mendukung regulasi dan perlindungan kesehatan kerja di sektor informal.
Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) seharusnya tidak hanya menjadi milik perusahaan besar.
Budaya ini harus ditanamkan hingga ke sektor informal, termasuk pengrajin seperti yang ada di Maseppe. Keselamatan kerja bukanlah kemewahan ia adalah hak dasar setiap pekerja.

Pengetahuan mengenai PAK merupakan langkah awal yang sangat penting.
Ketika pengrajin memahami bahwa batuk kronis, pusing berkepanjangan, atau gangguan sendi bukanlah hal “biasa” yang harus ditoleransi dalam bekerja, maka kesadaran untuk berubah mulai tumbuh.
Di sinilah peran perguruan tinggi dan masyarakat ilmiah dibutuhkan: menjembatani ilmu dan praktik dengan cara yang membumi.
Opini ini bukan sekadar ajakan sadar PAK, tapi seruan bersama untuk mengedepankan keselamatan kerja sebagai nilai budaya, bukan sekadar kewajiban administratif.
Karena di balik setiap palu yang diketuk, terdapat nyawa dan masa depan yang perlu kita jaga bersama.
Penulis : Andi Sani / Dosen Universitas Muslim Indonesia
Editor : Jian Parawansyah
