Pidie Jaya Berjuang, Relawan Medis Sulsel di Garis Depan

Pidie Jaya Berjuang, Relawan Medis Sulsel di Garis Depan

Read Time:11 Minute, 41 Second

*Tulisan ini lahir dari wawancara eksklusif dengan dr. Muh Ilham Iskandar, SpPD, relawan medis Pemprov Sulsel yang diterjunkan ke Pidie Jaya, Aceh.

Ketika tim medis dari Sulawesi Selatan memasuki Pidie Jaya pada awal Desember, udara lembap bercampur bau lumpur menyambut mereka sebelum sempat melihat kerusakan dengan jelas. Di tengah situasi itu, dr. Ilham Iskandar membawa kesan kuat tentang keputusan cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam satu malam, Gubernur Andi Sudirman Sulaiman membentuk tim relawan medis untuk misi kemanusiaan dan mengirimkan mereka ke tiga provinsi terdampak, termasuk tim yang bertugas di Pidie Jaya. Bagi dr. Ilham, langkah tangkas itu menjadi alasan mengapa para relawan kesehatan dapat hadir lebih awal di jantung bencana, membawa bukan hanya peralatan medis, melainkan juga keyakinan bahwa harapan masih mungkin bertahan. Dari tenda pengobatan darurat hingga ruang operasi RSUD Pidie Jaya, jejak perjuangan mereka menggambarkan betapa beratnya wilayah ini berjuang untuk kembali berdiri.

Tidak lama setelah menggulirkan layanan pertama di Pidie Jaya, sebuah mobil membawa obat-obatan dan logistik memasuki Desa Beringin yang menjadi titik awal kunjungan mobile clinic dr. Ilham Iskandar dan timnya. Begitu kendaraan berhenti, warga segera mendekat, mulai dari ibu-ibu yang menggendong anak dengan ruam di kulit, kakek yang berbatuk-batuk, hingga remaja dengan luka tergores besi berkarat. Di balik masker bedah yang telah lembap sejak pagi, dr. Ilham menghela napas dan mencoba menata antrean yang kian panjang. Pada momen itu ia merasakan bahwa bantuan medis menjadi penopang penting bagi warga yang kehilangan hampir semua akses kesehatan sejak banjir menerjang.

Sebelum mencapai desa itu, Tim Bantuan Medis Pemrov Sulsel lebih dulu tiba di Banda Aceh untuk melapor di Posko HEOC Aceh atau Health Emergency Operational Center. Dari posko tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh mengarahkan mereka ke Kabupaten Pidie Jaya sebagai wilayah tugas. Setibanya di Pidie Jaya, mereka kembali melapor kepada koordinator relawan setempat yang berasal dari Tim Medis Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Koordinasi awal inilah yang memastikan layanan mobile clinic dapat segera bergerak ke desa-desa terdampak, termasuk ke Desa Beringin yang kemudian menjadi titik pertama tempat dr. Ilham menyadari betapa mendesaknya kebutuhan kesehatan masyarakat di lapangan.

Mobile clinic yang digerakkan tim ini berjalan berkat kolaborasi antara beberapa unsur, yakni Tim Bantuan Medis Pemprov Sulsel, Tim Universitas Hasanuddin (Unhas), Tim Unsyiah, TBM Calcaneus, serta Keperawatan Unhas melalui Siaga Ners Unhas. Sinergi lintas lembaga inilah yang memungkinkan layanan kesehatan bergerak cepat menjangkau wilayah terdampak. Selama empat hari berturut-turut, mereka berpindah dari satu posko ke posko lainnya. Hari pertama dimulai di Posko Pengungsian Gampong Beuringin, kemudian hari kedua di Posko Pengungsian Gampong Manesah Balek. Hari ketiga mereka memberikan pelayanan di Posko Teupin Pukat, lalu pada hari keempat mobile clinic berlanjut ke Gampong Seunong. Setiap lokasi memunculkan wajah dan cerita yang berbeda, namun seluruhnya sama-sama menegaskan seberapa besar kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang hadir di tengah keterbatasan.

“Mari, satu-satu ya, Bapak-Ibu,” ujar dr. Ilham sambil menata antrean yang semakin panjang di setiap lokasi yang mereka datangi. Ia merupakan salah satu dokter dalam Tim Relawan Medis Bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang dilepas langsung oleh Gubernur Andi Sudirman Sulaiman untuk bertugas di wilayah terdampak. Dalam wawancara eksklusif sepulang dari penugasannya, dr. Ilham menggambarkan bagaimana lima hari di Pidie Jaya terasa seperti menyaksikan sebuah daerah yang berusaha tetap berdiri di tengah runtuhnya infrastruktur, gangguan sanitasi, dan hilangnya rasa aman bagi warganya.

Ia dan rombongan tiba di Aceh pada 4 Desember 2025 dan bertugas hingga 9 Desember. Dalam rentang itu, angka korban tewas akibat banjir dan longsor di Sumatra terus bertambah, dengan lebih dari 800 orang meninggal, ratusan hilang, dan jutaan lainnya terdampak di tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Di Pidie Jaya, air bah dan longsor menyapu sawah, jembatan, serta permukiman di sepanjang jalur Medan–Aceh yang sempat terputus total.

Di tengah lanskap rusak itulah Tim Medis Sulawesi Selatan bertugas. Mereka datang sebagai bagian dari misi bantuan resmi Pemprov Sulsel yang mengirim dokter spesialis, dokter umum, perawat, hingga tenaga logistik ke Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat. Di Pidie Jaya, tim gabungan itu berkolaborasi dengan tim-tim medis lain dan tenaga kesehatan lokal yang tersisa untuk membangkitkan kembali layanan medis yang hampir lumpuh.

“Banyak tenaga kesehatan di RSUD Pidie Jaya yang jadi korban, rumah mereka juga kena. Mereka harus bagi waktu antara jaga pasien dan mengurus keluarga,” tutur dr. Ilham. “Jadi ketika tim dari Sulsel dan Unhas datang, kita bukan hanya menambah tenaga, tapi membantu rumah sakit punya ‘napas’ lagi.”

Selama lima hari, pola kerja tim terbagi dua. Di satu sisi, terdapat kelompok yang fokus pada layanan rumah sakit yang meliputi penanganan operasi caesar, bedah tulang, dan pelayanan gawat darurat yang sempat terhambat karena kekurangan dokter. Di sisi lain, mobile clinic tim bergerak dari satu titik pengungsian ke titik berikutnya. Di setiap lokasi, kondisi yang mereka temukan hampir selalu serupa, posko-posko swadaya berdiri di lapangan atau halaman masjid, deretan pakaian basah menggantung di tali, dan ember plastik digunakan untuk menampung air yang kualitasnya masih jauh dari layak.

Di tengah situasi yang serba mendesak itu, dr. Ilham merasa sangat terbantu oleh kesiapan Tim Relawan Medis Unhas yang telah berada di lokasi sehari lebih awal. Tim ini datang dengan formasi yang lengkap, mulai dari spesialis penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, anak, hingga ortopedi. Kehadiran mereka berpadu dengan rombongan dari Pemprov Sulawesi Selatan yang turut mengirim spesialis penyakit dalam, spesialis anak, serta tenaga anestesi, sehingga kolaborasi medis di lapangan dapat berjalan cukup efektif. Tim Unhas juga membawa perangkat komunikasi satelit dan menyiapkan kendaraan operasional sejak dari Banda Aceh, langkah yang menurut dr. Ilham sangat memudahkan kerja tim ketika jaringan dan akses logistik di Pidie Jaya belum sepenuhnya pulih.

Menurut kisah dr. Ilham, jumlah pasien di klinik bergerak rata-rata mencapai 100 hingga 150 orang per hari, didominasi orang dewasa dan lansia. Keluhan kesehatan yang mereka temui selaras dengan pola penyakit pascabanjir yang juga dicatat Kementerian Kesehatan dan berbagai lembaga kemanusiaan, meliputi infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), penyakit kulit, luka di kaki akibat terendam air kotor dalam waktu lama, serta diare yang banyak dialami anak-anak.

“Anak-anak banyak datang dengan diare dan ruam di kulit. Ada yang sudah beberapa hari belum mandi karena air bersih tidak ada, pakaian dalam pun tidak punya ganti,” jelasnya. Kondisi itu selaras dengan peringatan para dokter setempat dan organisasi kemanusiaan yang menyebut bahwa kombinasi air tergenang, sanitasi rusak, dan kepadatan pengungsian adalah resep klasik bagi ledakan penyakit menular.

Cerita dari lokasi pengungsian memberi gambaran bahwa dampak bencana yang terjadi di Pidie Jaya tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga mengguncang kehidupan sosial warga. Berdasarkan penuturan dr. Ilham, banyak warga kehilangan rumah dan sawah, bahkan ada permukiman yang tertimbun lumpur hingga setinggi atap. Ia juga mengingat seorang warga yang memohon agar alat berat segera diturunkan untuk membuka akses ke kampung mereka karena jalur menuju pemukiman tertutup lumpur, sehingga keluarga tidak dapat memastikan kondisi rumah masing-masing. Informasi-informasi inilah yang menunjukkan betapa berat situasi yang dihadapi masyarakat di wilayah terdampak.

Di RSUD Pidie Jaya, babak lain dari drama kemanusiaan berlangsung. Gelombang banjir yang memutus akses jalan mengganggu distribusi obat dan membuat beberapa fasilitas kesehatan di Aceh, termasuk rumah sakit dan puskesmas, tak dapat berfungsi normal. Ketika tim medis gabungan tiba, sebagian layanan kunci, seperti instalasi gawat darurat, masih terseok. Di sinilah dokter-dokter dari Sulsel dan Unhas mengambil alih sebagian peran vital.

Media nasional sebelumnya melaporkan tiga operasi caesar darurat yang berhasil menyelamatkan ibu dan bayi korban banjir di RSUD Pidie Jaya.  tindakan itu dikerjakan tim dokter dari Universitas Hasanuddi (Unhas) bersama dokter anestesi dan tenaga kesehatan pendukung yang ikut dalam misi bantuan (detikdotcom). Di luar tiga operasi yang banyak diberitakan, dr. Ilham menjelaskan bahwa pekerjaan mereka setiap hari juga berisi berbagai tindakan, mulai dari menstabilkan pasien dengan sesak napas, membersihkan luka yang mulai infeksi, memantau tekanan darah pengungsi dengan penyakit kronis, hingga memastikan ibu menyusui memperoleh obat yang aman bagi bayinya.

“Yang sering tidak terlihat itu beban mental tim medis,” katanya, pelan. “Kami datang membawa logistik dan keahlian, tetapi di tengah lapar, dingin, dan anak menangis, kadang yang paling dibutuhkan warga adalah ada orang yang mau mendengar cerita mereka, bukan cuma memberi obat.”

Dalam skala yang lebih luas, situasi di Pidie Jaya menjadi bagian dari krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di seluruh Sumatra. Organisasi internasional dan pemerintah mencatat jutaan orang terdampak, ratusan ribu mengungsi, dan akses ke air bersih bersama layanan kesehatan menjadi masalah utama (The Guardian). Di Aceh, laporan-laporan terbaru menyebut bahwa anak-anak berada di kelompok risiko tertinggi, baik dari sisi penyakit menular maupun trauma psikologis (Relief Web).

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, situasi di Aceh pada 2025 mencerminkan pengalaman yang kerap muncul dalam berbagai bencana hidrometeorologi. Ketika banjir dan longsor terjadi, tahap awal biasanya berfokus pada penyelamatan fisik, lalu disusul tahap berikutnya yang tidak kalah berat yaitu upaya mencegah kematian gelombang kedua akibat penyakit pascabencana. Penyakit berbasis air, ISPA, infeksi kulit, hingga pneumonia pada anak dapat meningkat dalam waktu singkat apabila sanitasi, ketersediaan air bersih, dan hunian sementara tidak segera diperbaiki (CNBC Indonesia).

Dalam wawancara eksklusif ini, dr. Ilham menegaskan bahwa titik paling rapuh di Pidie Jaya tidak hanya terletak pada bangunan yang roboh, tetapi juga pada sistem pendukung hidup yang ikut melemah. Akses jalan ke kampung-kampung tertutup lumpur, jaringan air bersih terganggu, fasilitas MCK darurat masih jauh dari standar, dan tenaga medis lokal menghadapi kelelahan berat. Ia khawatir jalur menuju permukiman tidak akan pulih dengan cepat dan fasilitas sanitasi di pengungsian belum akan membaik, sehingga lonjakan kasus diare serta penyakit menular lain bisa saja terjadi. Kekhawatiran ini sejalan dengan peringatan otoritas kesehatan Aceh dan para dokter di lapangan yang mencatat peningkatan keluhan demam, luka infeksi, dan penyakit kulit dalam beberapa hari terakhir.

Di luar teknis medis, cerita yang dibawa dr. Ilham juga menyentuh soal solidaritas lintas daerah. Ia menyaksikan bagaimana tim dari Sulsel bekerja bahu-membahu dengan dokter muda Aceh, mahasiswa koas, hingga relawan lokal yang bertugas mengatur antrean pasien. Di sela-sela kerja, mereka bertukar cerita tentang bagaimana banjir ini dirasakan lebih berat dibanding apa yang diingat sebagian warga ketika tsunami 2004 melanda. Bukan karena gelombang air kali ini lebih besar, melainkan karena durasi dan jangkauannya yang luas, menyapu sawah, jalan nasional, bahkan fasilitas kesehatan sekaligus.

“Banyak warga yang mengatakan, kalau dulu tsunami, mereka masih bisa cepat tahu apa yang tersisa. Sekarang, yang mereka lihat hanya lumpur dan puing. Akses ke kampung pun putus,” kisahnya. Di beberapa desa, rumah-rumah benar-benar tertanam dalam lapisan lumpur yang mengeras. Ada keluarga yang baru bisa kembali menengok rumah setelah berhari-hari, dan menemukan perabot, kasur, hingga dokumen penting tak lagi bisa diselamatkan.

Walau menghadapi keadaan yang serba terbatas, dr. Ilham selalu berusaha melihat setiap situasi dengan sudut pandang yang memberi harapan. Ia merasa beruntung karena timnya disambut hangat oleh pihak RSUD Pidie Jaya yang segera menyiapkan tempat menginap bagi para relawan medis dari Sulawesi Selatan. Dukungan itu membuat mereka tetap memiliki ruang aman untuk beristirahat sebelum kembali turun ke lapangan setiap pagi. Ia juga terkesan dengan semangat yang terus ditunjukkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, semangat yang menurutnya menjadi sumber energi tambahan bagi seluruh anggota tim di tengah tekanan dan kelelahan. Bagi dr. Ilham, hal-hal itulah yang membuat mereka tetap mampu bertahan dan bekerja dengan hati yang kuat meski berada di tengah bencana besar.

Semua itu juga bersambut dengan semangat bangkit masyarakat Pidie Jaya, dr. Ilham dan rekan-rekannya menyaksikan daya tahan yang luar biasa. Ia bercerita tentang organisasi kemasyarakatan lokal Aceh yang setiap hari berpatroli dengan truk menyalurkan bantuan, atau tentang ibu-ibu pengungsian yang membuat dapur umum kecil hanya dengan sisa bahan makanan yang mereka punya, serta tentang ustaz kampung yang tiap malam mengajak anak-anak duduk melingkar di bawah lampu darurat untuk bercerita, agar mereka punya sejumput rutinitas di tengah ketidakpastian.

Ketika ditanya apa kesan paling kuat sebagai relawan kesehatan dari Sulsel di Pidie Jaya, dr. Ilham terdiam sejenak sebelum menjawab. “Yang paling terasa adalah bahwa batas administrasi provinsi itu hilang begitu saja ketika kita menatap wajah orang-orang yang kelelahan di pengungsian,” ujarnya. Ia mengaku datang membawa identitas sebagai bagian dari Tim Medis Pemprov Sulawesi Selatan, tetapi pulang dengan rasa bahwa Aceh adalah juga urusannya sebagai sesama warga negara yang hidup di negeri yang sama, di bawah ancaman krisis iklim yang sama.

Bencana banjir dan longsor di Aceh tahun ini memang tidak bisa dilepaskan dari isu yang lebih besar. Para ahli meteorologi dan iklim menilai kombinasi hujan ekstrem, badai di Selat Malaka, serta kerusakan lingkungan seperti deforestasi dan alih fungsi lahan sebagai faktor yang memperparah skala bencana. Ketika tutupan hutan menipis dan daerah resapan air menyusut, air hujan yang turun dalam volume besar tidak lagi punya ruang untuk meresap, melainkan bergegas turun menjadi arus yang menghantam permukiman dan infrastruktur.

Di titik inilah, kisah lapangan yang dibawa dr. Ilham menjadi pengingat penting bagi publik, bahwa pekerjaan rumah Indonesia bukan hanya memperbaiki jalan yang ambles, membangun kembali rumah sakit, atau menambah stok obat saat bencana terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan di hulu. Tanpa perbaikan tata kelola lingkungan dan mitigasi bencana, tim-tim medis seperti yang datang dari Sulsel, Unhas, dan daerah lain akan terus dipanggil dengan skala misi yang mungkin makin besar dari tahun ke tahun.

“Lima hari itu singkat, tetapi padat makna,” ucap dr. Ilham. “Kami hanya bagian kecil dari upaya besar. Yang kami harap, setelah berita-berita ini lewat, orang masih ingat bahwa di sini ada warga yang bukan hanya butuh bantuan hari ini, tetapi juga jaminan bahwa rumah dan sawah mereka tidak akan dihanyutkan banjir seperti ini lagi.”

Dari Pidie Jaya, kisah relawan kesehatan Sulawesi Selatan yang disampaikan langsung oleh dr. Muh Ilham Iskandar, SpPD dalam wawancara eksklusif ini menghadirkan pesan yang lebih luas daripada laporan angka apa pun. Di tengah lumpur dan puing, kemanusiaan masih berdiri, namun tetap memerlukan dukungan kebijakan yang kuat agar tidak terus berjuang dalam kondisi darurat tanpa akhir.

*foto istimewa
*Darmadi H. Tariah