CELEBES IMAGES, Makassar — Senja di Makassar yang dulu terbentang lapang kini kian terhalang. Siluet jingga-ungu yang menjadi identitas kota pesisir perlahan memudar, tertutup deretan gedung tinggi dan proyek reklamasi yang terus tumbuh, meninggalkan pertanyaan: masihkah sunset Makassar bisa dinikmati generasi mendatang?
Dulu, senja di Makassar adalah mahakarya alam yang tak pernah gagal memukau siapa pun yang menatapnya. Langit jingga berpadu ungu di ufuk barat, memantulkan cahaya merah saga ke laut yang tenang. Panorama itu seolah menjadi identitas kota pesisir yang sederhana namun penuh pesona. Sunset bukan hanya pemandangan, melainkan juga kisah kolektif warga yang tumbuh bersama riak laut dan angin pantai.
Namun, wajah itu perlahan berubah. Deretan bangunan tinggi, dinding beton, hingga proyek reklamasi menutup cakrawala yang dulu lapang. Siluet matahari tenggelam kian samar, terkikis oleh ambisi pembangunan yang menjanjikan modernitas. Senja yang dulu terbentang bebas kini harus dicari; di sela-sela gedung, di celah sempit, atau dari sudut tertentu yang masih memberi kesempatan pada mata untuk menikmati sisa cahaya.
Di titik inilah senja Makassar menjelma simbol pertarungan. Ia bukan hanya pembeda antara alam dan beton, tetapi juga peringatan bahwa keindahan alami bisa hilang jika tak dijaga. Sunset yang pernah menjadi kebanggaan warga kini berubah menjadi noktah jingga di atas kanvas besar modernitas, serupa tanda bahwa di balik ambisi manusia, ada warisan alam yang perlahan memudar.
*Foto: Nurwijaya Hariadi






