Parade Budaya 100 Tahun Situs Aitumeri di Teluk Wondama: Kilas Kembalinya Semangat Orang Asli Papua

Parade Budaya 100 Tahun Situs Aitumeri di Teluk Wondama: Kilas Kembalinya Semangat Orang Asli Papua

Read Time:2 Minute, 1 Second

CELEBES IMAGES, Wasior — Iring-iringan warga dengan busana adat dan gerak tarian yang penuh warna memenuhi jalan utama Wasior pada perayaan seratus tahun Situs Aitumeri.

Suasana yang menggema dari bunyi tifa dan nyanyian adat itu bukan hanya pesta budaya. Bagi masyarakat Teluk Wondama, parade ini adalah cara untuk mengenang tempat pertama kali orang Papua mengenal pendidikan formal dan menyatakan bahwa semangat belajar itu masih hidup di tengah tantangan masa kini.

Situs Aitumeri di Kampung Miei, Distrik Wasior, dikenang sebagai titik awal ketika pendeta Izaack Samuel Kijne mendirikan sekolah rakyat pada 25 Oktober 1925. Dari tempat sederhana itulah bibit pertama pendidikan bagi Orang Asli Papua tumbuh.

Seratus tahun kemudian, warga Wondama turun ke jalan bukan semata untuk bernostalgia, melainkan menegaskan kembali bahwa warisan pendidikan dari Kijne tetap menjadi fondasi harapan mereka.

Bagi banyak warga, parade budaya ini menjadi ruang untuk meneguhkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju martabat. Di antara rombongan penari dan anak-anak sekolah yang mengenakan hiasan kepala dari bulu kasuari, tampak semangat baru yang tumbuh dari kesadaran bahwa pendidikan masih harus diperjuangkan.

Seorang guru dari Miei menuturkan bahwa meski sudah satu abad berlalu, akses pendidikan di Papua belum sepenuhnya setara dengan daerah lain di Indonesia. Banyak anak di pedalaman masih harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah, sementara fasilitas pendidikan di beberapa wilayah belum memadai. Ia menyebut perayaan ini sebagai pengingat bahwa perjuangan belum usai.

Perayaan Aitumeri menjadi titik temu antara sejarah dan kenyataan. Sementara di Jawa pendidikan tumbuh dengan cepat dan terhubung dengan teknologi, masyarakat Wondama masih berjuang untuk menghadirkan ruang belajar yang layak di tengah keterbatasan infrastruktur. Namun, semangat yang terpancar dari parade ini memperlihatkan tekad yang tidak kalah kuat.

Di bawah terik matahari, anak-anak menari diiringi lagu-lagu daerah dengan senyum lebar. Para orang tua menyaksikan mereka dengan kebanggaan yang dalam. Bagi mereka, parade seratus tahun Aitumeri adalah pernyataan bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi bagian dari masa depan Papua.

Peristiwa ini juga menjadi cermin bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah pendidikan di tanah mereka sendiri. Dari Aitumeri, warga Wondama ingin dunia melihat bahwa semangat belajar tidak akan padam, meskipun jarak dan keterbatasan masih membentang.

Ketika senja turun di Wasior, gema tifa dan sorak-sorai masih terdengar. Dalam setiap dentumannya tersimpan pesan yang sederhana namun kuat, bahwa pendidikan di Papua tidak boleh berhenti di Aitumeri, tetapi harus tumbuh dan meluas sampai ke pelosok-pelosok negeri.

*Pewarta Foto: Chairil Indra