CELEBES IMAGES, Gowa — Langit di atas Lembah Ramma sering berubah cepat, dari biru bening menjadi kelabu pekat yang menggantung di puncak-puncak batu.
Dari kejauhan, lembah ini tampak seperti cawan besar yang dikelilingi tebing curam dan lereng-lereng hijau. Udara tipisnya membawa aroma tanah basah dan dedaunan pinus, sementara suara gemericik air kecil memantul di antara bongkahan batu besar.
Di sinilah, para pendaki menapaki jalur alam yang menantang dan menenangkan pada saat bersamaan.
Setiap langkah menuju Ramma adalah perjalanan yang mengingatkan bahwa keindahan pegunungan tidak pernah datang tanpa risiko.
Di salah satu sudut ujung lembah, batu-batu besar yang berserakan seperti sisa-sisa sejarah yang tak lagi utuh. Inilah jejak dari peristiwa besar dua dekade lalu, yaitu longsor besar di Bulu Bawakaraeng tahun 2004 yang menelan banyak korban jiwa.
Peristiwa itu tidak hanya mengubah wajah gunung, tetapi juga membentuk lanskap baru yang kini tampak seperti sungai besar penuh batuan yang kering.
Bagi mereka yang berjalan di antara batuan sisa longsor, alam di sekitar seolah masih menyimpan ingatan tentang pergerakan besar tanah itu. Dinding-dinding curam terlihat rapuh, beberapa dengan warna keabu-abuan yang menandakan lapisan material sisa longsoran yang tidak pernah benar-benar stabil.
Pendaki yang berpengalaman tahu bahwa di balik keindahan yang hening itu ada ancaman yang tak terlihat, yaitu labilnya salah satu sisi Bawakaraeng yang sewaktu-waktu bisa kembali longsor.
Namun, keindahan Ramma sulit untuk tidak dikagumi. Di pagi hari, kabut tipis turun perlahan menyelimuti lembah, menciptakan pemandangan yang seperti dilukis kabut. Di siang hari, sinar matahari menembus sela awan dan menyoroti jalur berbatu tempat pendaki menapak ke arah tujuan.
Banyak yang datang bukan hanya untuk menelusuri jalur, tetapi juga untuk mencari ruang kontemplasi, menemukan kembali hubungan dengan alam, dan merayakan kesederhanaan hidup di bawah langit terbuka.
Meski begitu, tidak semua yang datang memahami keseimbangan rapuh kawasan ini. Aktivitas pendakian yang tidak bertanggung jawab seperti membuang sampah, membuat api unggun sembarangan, atau berperilaku tidak terpuji perlahan merusak ekosistem lembah. Padahal, Ramma bukan hanya tempat rekreasi. Ia juga ruang hidup bagi tumbuhan pegunungan, hewan kecil, dan sumber air bagi daerah di bawahnya.
Menjaga Lembah Ramma berarti menghormati sejarah dan menghargai alam yang masih berproses memulihkan diri. Setiap batu di jalur ini adalah pengingat tentang kekuatan alam yang pernah mengguncang dan tentang kerapuhan manusia di hadapannya.
Para pendaki yang datang semestinya membawa kesadaran itu, bahwa mendaki bukan hanya petualangan tetapi juga pernyataan tanggung jawab terhadap alam.
Lembah Ramma mengajarkan keseimbangan antara keberanian dan kehati-hatian, antara keindahan dan bencana. Ia adalah tempat yang mengundang siapa pun untuk datang, menikmati, dan belajar, namun juga mengingatkan bahwa setiap langkah di tanah berbatu itu adalah bagian dari kisah panjang yang harus dijaga agar tak kembali menjadi duka.
*Pewarta Foto: Agung Dewantara












