CELEBES IMAGES, Makassar – Di seberang gemerlap Center Point of Indonesia (CPI) yang sedang julang bertumbuh di Makassar, Pulau Lae-Lae terpaku dalam diam.
Hanya sejengkal laut yang memisahkan kemewahan dan kenyataan itu; ada abrasi yang menggerus pesisir, sampah yang menumpuk di sudut-sudut pantai, dan fasilitas dasar yang tak kunjung memadai.
Warga Lae-Lae hidup dalam degup irama yang kontras dengan denyut pembangunan kota. Setiap saat, mereka menyaksikan ketika beton dan kaca menjadi simbol kemajuan. Tak ada banyak pilihan, mereka bertahan dengan bambu dan harapan.
Pulau ini adalah cermin dari pertanyaan yang lebih besar, untuk siapa pembangunan itu sebenarnya?
Di tengah riuhnya proyek reklamasi dan ambisi metropolitan, Lae-Lae yang sejatinya memiliki banyak potensi termasuk tawaran keindahan, berposisi gamang.
Posisi yang rumit ini mengabarkan simpulan, bahwa seringkali pembangunan itu bukan untuk setiap orang. Posisi sebagai teras Kota Makassar memang riskan, bisa saja sewaktu-waktu terhempas terkena sapuan dekorasi tata kota.
Ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sesungguhnya tak hanya diukur dari tinggi gedung, tapi dari seberapa banyak yang ikut naik bersamanya.
*foto: Nurwijaya Hariadi




