Genetik vs Perlakuan: Studi UMI Buktikan Jagung Pulut Lebih ‘Taat’ pada DNA dari pada Pupuk!

Genetik vs Perlakuan: Studi UMI Buktikan Jagung Pulut Lebih ‘Taat’ pada DNA dari pada Pupuk!

Read Time:1 Minute, 57 Second

CELEBES IMAGES , GOWA – Di balik rimbunnya tanaman jagung di Kebun Percobaan Desa Pabentengan, Bajeng, Kabupaten Gowa, tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia (UMI) yang terdiri dari Dr. Amir Tjoneng, MS, Edy, Anita Rahman, dan Suraedah Alimuddin mengungkap temuan mengejutkan.

Faktor genetik ternyata lebih dominan ketimbang perlakuan budidaya dalam menentukan pertumbuhan vegetatif jagung pulut lokal.

Hasil penelitian mereka, yang digarap sejak awal musim tanam, membantah asumsi umum bahwa pemangkasan tongkol kedua (pruning) dan penyemprotan Pupuk Pelengkap Cair (PPC) mampu mendongkrak tinggi tanaman dan jumlah daun.

“Ini bukti bahwa kita tidak bisa melawan alam. Genetik adalah ‘arsitek’ utama pertumbuhan jagung, khususnya tinggi tanaman dan daun. Perlakuan hanya pelengkap,” tegas Amir saat ditemui di laboratorium pertanian UMI, Makassar, Selasa (3/09/2024).

Meski pruning dan PPC gagal memengaruhi tinggi tanaman dan jumlah daun, penelitian ini justru menemukan kejutan lain: pemangkasan tongkol kedua meningkatkan bobot kering tanaman hingga 12% dan bobot biji per hektar hingga 15%. Sayangnya, PPC—yang kerap diandalkan petani—nyaris tidak memberi pengaruh nyata.

“Petani sering mengira PPC adalah solusi ajaib. Nyatanya, tanpa varietas unggul, efeknya minimal. Tapi, pruning bisa jadi senjata rahasia untuk panen lebih berat,” papar Anita Rahman, sambil menunjukkan data statistik yang sudah diverifikasi.

Temuan ini memicu diskusi serius di kalangan akademisi dan praktisi pertanian. Jika genetik adalah penentu utama, maka pemuliaan varietas unggul harus jadi prioritas. Sementara pruning bisa diadopsi sebagai teknik rendah biaya untuk meningkatkan hasil panen.

“Jangan buang duit untuk PPC kalau benihnya biasa-biasa saja. Pilih bibit bagus, lalu kombinasikan dengan pruning. Itu kuncinya,” saran Edy, salah satu anggota tim peneliti.

Suraedah Alimuddin, yang juga terlibat dalam penelitian ini, menambahkan bahwa studi ini masih terbatas pada parameter vegetatif dan hasil biji. Kedepan, tim berencana mengeksplorasi interaksi antara perlakuan budidaya dengan kondisi lingkungan, seperti curah hujan dan kesuburan tanah.

“Kami ingin temukan formula yang lebih holistik. Tidak hanya genetik, tapi juga bagaimana lingkungan memperkuat atau melemahkan respons tanaman,” tandasnya.

Salah seorang petani jagung di Gowa, Andi Baso (42), mengaku terkejut dengan temuan ini. “Selama ini kami selalu andalkan PPC. Ternyata salah strategi. Lebih baik investasi di benih berkualitas,” ujarnya.

Dengan temuan ini, tim peneliti berharap petani bisa lebih efisien dalam alokasi sumber daya, fokus pada apa yang benar-benar berdampak, bukan sekadar ikut tren.

“Genetik memang bukan segalanya, tapi tanpa itu, perlakuan apa pun hanya sia-sia,” pungkas Dr. Amir Tjoneng.

 

 

NASKAH : JIAN PARAWANSYAH