CELEBES IMAGES, Makassar — Hari ketiga pertunjukan monolog dalam rangkaian Festival Kala Monolog 2025 di Aula Benteng Rotterdam, Sabtu, 25 Oktober 2025 berlangsung ramai dipadati penonton.
Meski kapasitas penonton dibatasi hanya 80 orang karena aturan pelestarian cagar budaya, antusiasme masyarakat seni tetap tinggi. Setiap kursi terisi, menandai betapa teater monolog masih memikat publik di tengah hiruk-pikuk kota.
Tahun ini Festival Kala Monolog mengangkat tema Ale’ Lino, sebuah konsep kosmologi dalam epos mitologi Bugis I La Galigo yang berarti Dunia Tengah. Ale’ Lino yang berada di antara botting langi’ atau dunia atas dan uri’ lino atau dunia bawah, menjadi ruang eksistensi tempat manusia hidup, berinteraksi dengan alam, leluhur, dan entitas spiritual lainnya.
Tema ini dimaknai sebagai ajakan untuk memulihkan keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan nilai-nilai leluhur di tengah kehidupan modern yang kian terlepas dari akar ekologis dan kebijaksanaan budaya.
Tiga lakon monolog pada hari ketiga menampilkan keberagaman tafsir terhadap tema tersebut. Pertunjukan pembuka berjudul Perempuan yang Disunyikan Takdir diperankan oleh Emma Hamzah. Lakon berlatar masa awal kemerdekaan ini menyoroti pergulatan perempuan yang berjuang di tengah keterbatasan sosial dan politik. Melalui permainan yang halus namun menggetarkan, Emma menggambarkan keteguhan perempuan dalam menegosiasikan nasib dan martabat di tengah bayang-bayang patriarki yang kuat.
Monolog kedua, Dongeng di Antara Beton dan Pohon, dibawakan oleh Santi Dewi dengan gaya puitik dan simbolik. Dalam lakon ini, ia memerankan sosok binatang yang perlahan kehilangan tempat tinggalnya akibat desakan pembangunan kota. Ruang-ruang hidup alami berubah menjadi beton dengan slogan-slogan ekologis yang menutupi kerusakan sebenarnya. Permainan Santi memadukan bahasa tubuh dan citraan liris yang memancing empati sekaligus ironi terhadap cara manusia memaknai kemajuan.
Sebagai penutup, Hukum Mencuci Piring diperankan oleh Syam Ancoe Amar. Lakon ini menampilkan absurditas dan ironi kehidupan modern melalui metafora dapur sebagai ruang perenungan moral. Di permukaan, ia tampak sebagai kisah tentang pekerjaan domestik, tetapi secara simbolik mengisahkan dilema aborsi di sebuah klinik ilegal. Aktivitas mencuci piring menjadi metafora tentang membersihkan jejak dosa dan perasaan bersalah, menghadirkan tensi emosional yang tajam antara tubuh, moralitas, dan penebusan.
Hari ketiga pertunjukan Festival Kala Monolog 2025 memastikan bagaimana monolog menjadi medium reflektif untuk membaca ulang hubungan manusia dengan dunia dan dirinya sendiri. Dalam ruang terbatas Benteng Rotterdam yang bersejarah, para aktor menghadirkan panggung yang hidup, jujur, dan menggugah, menjadikan Ale’ Lino sebagai tema sekaligus kesadaran kolektif tentang keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
*Pewarta Foto: Darmadi H. Tariah















