Capture Wisata Makassar: Jejak Rasa dan Budaya dalam Pameran Foto Gastronomi

Capture Wisata Makassar: Jejak Rasa dan Budaya dalam Pameran Foto Gastronomi

Read Time:3 Minute, 17 Second

CELEBES IMAGES, Makassar – Pameran foto gastronomi bertajuk Capture Wisata Makassar: Gastronomi Makassar, Jejak Rasa dan Budaya menjadi ruang untuk menonjolkan kekayaan kuliner kota, yang digelar Dinas Pariwisata Kota Makassar di Tribun Lapangan Karebosi, Selasa (25/11/2025).

Kegiatan ini dibuka oleh Plt Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Makassar, Irwin Ramadanis Ohorella, sekaligus dirangkaikan dengan peluncuran buku bertema gastronomi Makassar yang menghimpun kisah dan visual kuliner khas kota ini.

Menyambung Jejak Kuliner dan Sejarah Kota

Deretan foto yang dipamerkan menyoroti hidangan-hidangan khas Makassar seperti Sop Saudara, Kopi Makassar, Mie Titi, Pallubasa Serigala, aneka menu ikan bakar, Coto Makassar, Jalangkote, gorengan kaki lima, sampai Pisang Epe yang menjadi ikon kuliner di kawasan Pantai Losari.

Pengunjung juga dapat melihat visual ritual Suru Maca, Konro, Sarabba Sungai Cerekang, serta suasana dua ruang penting dalam sejarah pangan kota ini, yakni Pasar Terong dan Tempat Pelelangan Ikan Paotere.

Irwin Ramadanis menjelaskan, pameran ini dirancang sebagai ruang untuk membaca kembali identitas kota melalui makanan. Baginya, kuliner Makassar bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga lintasan sejarah dan budaya.

“Kami ingin mengulas kembali kuliner khas Kota Makassar, mulai dari hidangan tradisional tempo dulu hingga sajian yang berkembang saat ini,” ucapnya kepada Celebes Images.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Makassar saat ini tengah mengonsolidasikan posisi kota sebagai destinasi kuliner. Pada 2023, Makassar telah ditetapkan sebagai Kota Kreatif subsektor Kuliner oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Karena itu, tahun ini kami terus berupaya menggali potensi kuliner tradisional yang ada di Makassar,” jelasnya.

Fondasi Menuju Kota Gastronomi Dunia 2027

Menurut Irwin, pameran ini menjadi tonggak baru karena untuk pertama kalinya Dinas Pariwisata secara eksplisit mengusung tema gastronomi dalam programnya.

“Untuk kegiatan yang berkaitan dengan kuliner, sebenarnya sudah sering kami lakukan. Namun, khusus yang mengusung tema gastronomi, ini adalah pertama kalinya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, agenda semacam ini diposisikan sebagai bagian dari rencana jangka panjang Pemerintah Kota Makassar. Karena itu, ia berharap format pameran ke depan dapat berkembang dengan cakupan yang lebih luas, baik dari sisi pelibatan pelaku maupun narasi yang diangkat.

“Tahun ini kami memang fokus mengangkat potensi kuliner Makassar, karena pada tahun 2027 kami berencana mengusulkan Makassar sebagai Kota Gastronomi Dunia,” tuturnya.

Kurasi Foto: Rasa, Ritual, dan Cerita Kota

Kurator pameran, Darmadi, menjelaskan bahwa proses kuratorial berlangsung dalam rentang waktu yang singkat sehingga menuntut kerja intens dari tim yang terlibat.

“Meski demikian, kami menerima tantangan tersebut karena memahami bahwa secara historis, kota kita memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat gastronomi dunia,” ungkapnya.

Ia menegaskan, sejarah Makassar sebagai bandar rempah menjadi titik berangkat untuk membaca ulang peradaban rasa di kota ini.

“Banyak makanan di berbagai belahan dunia tidak akan hadir seperti sekarang jika Bandar Makassar dulu bukan menjadi pelabuhan penting bagi rempah-rempah yang mengalir ke Barat dan ke Utara,” ujarnya.

Darmadi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran, mulai dari tim kreatif, fotografer, penulis, hingga Pemerintah Kota Makassar yang memberikan dukungan penuh.

“Keberhasilan ini tentu berkat kerja keras tim yang lebih dulu memulai dengan pembuatan buku Gastronomi Makassar, para fotografer, peneliti, dan penulis yang menyusun karyanya dengan penuh dedikasi,” katanya.

Ia menilai, gastronomi perlu mendapat tempat yang lebih kuat dalam wacana kebudayaan, sejajar dengan bentuk seni lainnya yang selama ini lebih banyak dibicarakan.

“Padahal ia adalah dunia rasa, dunia seni, dunia eksistensi, sekaligus identitas kota Makassar,” jelasnya.

Melalui pameran ini, sambungnya, pengunjung diajak mengikuti jejak kuliner Makassar lewat sudut pandang para fotografer yang menangkap kehidupan sehari-hari di dapur, pasar, hingga ruang makan.

“Setiap foto menunjukkan bagaimana makanan bekerja sebagai bahasa budaya, merawat ingatan keluarga, memperkuat identitas, dan merayakan keberagaman etnik yang membentuk kota ini,” tuturnya.

Darmadi mengingatkan bahwa sejak abad ke-16, Makassar telah berkembang sebagai kota metropolitan yang dihuni beragam komunitas, baik pendatang maupun warga lokal, yang bersama-sama membentuk lanskap kuliner yang khas.

“Melalui detail bahan, teknik memasak, hingga suasana ruang makan, pameran ini menyajikan kisah tentang sebuah kota yang hidup dalam ritme, rasa, dan tradisi,” pungkasnya.