CELEBES IMAGES, Makassar – Bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Internasional, Perempuan muda dari kelompok Masyarakat adat Ammatoa Kajang memulai menulis surat untuk kawan pena di Kota Padang Sumatera Barat, Sabtu (9/8). Dua kelompok Masyarakat ini akan saling berkirim surat selama tiga periode dan dengan tiga tema yang berbeda, mulai Agustus hingga Oktober 2025.
Untuk tahap pertama, surat ditulis dan dikirim dari Kajang ke Kota Padang. Tema pertama yang diangkat adalah tema Perkenalan. Di akhir Agustus nanti, surat dari Kota Padang untuk Perempuan muda di Suku Kajang akan dikirim sebagai surat balasan. Selanjutnya, tema kedua adalah Cerita dari Rumah dan tema ketiga adalah Mimpi, Harapan, dan Ketakutan.
Aktivitas berkirim surat ini adalah ruang untuk bertukar pengetahuan satu sama lain yang digagas oleh Ayu Adriyani dan AB Sarca Putera, dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang (UNP). Program ini adalah aktivitas inti dari program “Proyek Epistolari: Pesan-pesan dari Dua Nusa”. Program ini adalah program yang didanai oleh Lembaga Pulitzer Center, NGO yang berbasis di Amerika Serikat, melalui program Impact Seed Fund (ISF) 2025.
“Masyarakat adat Ammatoa dan kelompok Perempuan di Kota Padang adalah dua kelompok Masyarakat yang lahir dan tumbuh dari dua kontur geografis yang berbeda. Sebagai Masyarakat adat, lima orang Perempuan adat yang terlibat dalam proyek ini masih hidup dengan lingkungan yang dikelilingi hutan dan kearifannya yang masih terlihat dalam beragam praktik kehidupan,” kata Ayu.
Washington Post dalam salah satu liputannya menyebut Masyarakat adat Ammatoa Kajang sebagai penjaga hutan terbaik dunia. Lewat bagaimana eksistensi hutan pada Masyarakat adat Ammatoa, proyek ini mencoba mengekplorasi bagaimana posisi Perempuan dalam melihat adat dan hutannya.
Berbeda dengan Kajang yang masih dikelilingi hutan. Padang adalah daerah yang terletak di pinggiran pesisir barat pulau Sumatera. Perempuan muda yang terlibat dalam proyek ini adalah bagian dari Masyarakat kota Padang yang lebih akrab dengan lautan.
“Hutan dan laut menjadi dua ekosistem yang narasinya akan saling dipertukarkan dalam aktivitas surat menyurat ini. Surat menyurat adalah ruang aman dan pelan untuk masing-masing kelompok Masyarakat bercerita tentang pengetahuan lokal, hubungan mereka dengan lingkungan, pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik budaya, kepercayaan, dan cara hidup sehari-hari,” terang Ayu.
Dalam proses penulisannya, masing-masing kelompok Perempuan ini didampingi oleh jurnalis lokal. Pendampingan pada kelompok adat Ammatoa Kajang dilakukan oleh Irwan Idris, IDN Times Sulsel.
