Share
Read Time:3 Minute, 30 Second
Oleh Dr. Amir Tjoneng
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditi serealia yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Peranan jagung selain sebagai pangan (food) dan pakan (feed), sekarang banyak digunakan sebagai bahan baku energi (fuel) serta bahan baku industri lainnya yang kebutuhannya setiap tahun terus mengalami peningkatan (Hermanto dkk.,2009).
Berdasarkan hitungan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung dalam 5 tahun terakhir meningkat rata-rata 12,49% per tahun. Tahun 2017 produksi jagung mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Hal ini juga didukung oleh data luas panen per tahun yang rata-rata meningkat 11,06%, dan produktivitas rata-rata meningkat 1,42% (BPS, 2018). Sementara dari sisi kebutuhan, berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun 2020 diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK, terdiri dari pakan ternak sebesar 7,76 juta ton PK, peternak mandiri 2,52 juta ton PK, untuk benih 120 ribu ton PK, dan industri pangan 4,76 juta ton PK (BKP, 2021).
Di beberapa daerah, jagung pulut (waxy corn) digunakan sebagai jagung rebus karena rasanya yang enak dan gurih. Kandungan amilopektin pada jagung pulut hampir mencapai 100%. Endosperm jagung biasa terdiri atas campuran 72% amilopektin dan 28% amilosa (Jugenheimer, 1985). Menurut Alexander dan Creech (1977), kandungan endosperm jagung pulut hampir semuanya amilopektin. Pada jagung pulut terdapat gen resesif wx dalam keadaan homosigot (wxwx) yang mempengaruhi komposisi kimia pati sehingga menyebabkan rasa yang enak dan gurih. Hasil jagung pulut umumnya rendah, hanya 2-2,5 t/ha dan tidak tahan penyakit bulai. Sampai saat ini pemuliaan jagung pulut belum banyak mendapat perhatian, terutama dalam peningkatan potensi hasilnya, padahal permintaan jagung pulut terus meningkat, terutama untuk industri jagung marning. Untuk pembuatan jagung marning dibutuhkan biji jagung pulut yang ukurannya lebih besar agar kualitasnya lebih bagus dibanding menggunakan bijikecil. Untuk itu perlu diintrogresikan gen jagung pulut ke jagung putih yang bijinya lebih besar, produktivitasnya lebih tinggi, dan memiliki nilai biologis yang tinggi atau dengan membentuk jagung pulut hibrida yang berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar.
Adapun kendala-kendala produksi jagung pulut yang dihadapi yaitu penanaman varietas lokal secara terus menerus, pemupukan tidak sesuai dosis, teknik budidaya yang kurang maksimal dan tidak adanya program bantuan dan bimbingan yang ditangani oleh pemerintah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman jagung pulut lokal ini antara lain dengan pemupukan.
Penelitiaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Desa Pabentengan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu jagung Varietas Lokal Pulut, Pupuk Pelengkap Cair (Bram Evolution) dan pupuk NPK. Alat yang digunakan pada penelitian ini mesin traktor, meteran, mistar, spidol, label tanaman, ember, penjepit kertas, gunting, jangka sorong, kamera dan alat tulis. Penelitian ini didesain dalam bentuk rancangan petak terbagi, Petak utama pruning (P) terdiri dari 2 taraf yaitu: tidak dipruning (kontrol, P0), dipruning (P1). Anak petak penyemprotan PPC (C), terdiri dari 4 level yaitu tanpa PPC (C0), PPC 10 ml/liter air (C1), PPC 20 mL/L air (C2) dan PPC 30 mL/L air (C3), diperoleh 8 kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Ukuran plot 2,1 m x 2,0 m.
Hasil pengamatan tinggi tanaman jagung menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan tongkol kedua (pruning), penyemprotan pupuk pelengkap cair (PPC) dan interaksi antara pemangkasan tongkol kedua dan penyemprotan pupuk pelengkap cair tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Hal ini mengindikasikan bahwa karakter tinggi tanaman dan jumlah daun yang dominan berpengaruh terhadap tanaman jagung pulut lokal adalah faktor genetik. Pemberian perlakuan pruning dan PPC tidak memberikan efek yang nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Sipayung (2010), bahwa pemangkasan daun di sekitar tongkol berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, tetapi berpengaruh nyata terhadap luas daun, bobot 100 butir biji, bobot kering biji per tongkol dan bobot kering biji per petak. Panjang batang tanaman juga akan mempengaruhi jumlah ruas batang yang menjadi tempat keluarnya daun, sehingga jika tanaman mempunyai ukuran batang yang panjang maka jumlah daun tanaman itu juga lebih banyak yang berkaitan dengan proses asimilasi tanaman (Sintia, 2011). Semakin banyak jumlah daun pada suatu tanaman makan semakin banyak pula cahaya yang terserap oleh tanaman untuk proses fotosintesis, sehingga sangat berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Gardnert et al., 1985).
