OPINI
Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si.
KETIKA Abdul Haris Agam yang dikenal sebagai Agam Rinjani mendokumentasikan proses evakuasi wisatawan Brasil Juliana Marins dari jurang sedalam 600 meter di Gunung Rinjani, ia tidak hanya melakukan operasi penyelamatan. Tanpa disadari, ia sedang menulis ulang grammar heroisme di era digital dan mendemonstrasikan bagaimana jurnalistik telah bertransformasi secara fundamental dalam lanskap media kontemporer.
Fenomena viral Agam Rinjani menawarkan laboratorium sempurna untuk memahami dinamika kompleks antara teknologi, narasi, dan konstruksi makna dalam masyarakat digital.
Dari perspektif antropologi media, kasus ini menunjukkan apa yang Henry Jenkins sebut sebagai “participatory culture,” di mana batas tradisional antara producer dan consumer informasi telah runtuh.
Agam, seorang pemandu lokal tanpa latar belakang jurnalistik, berhasil menciptakan narasi yang lebih powerful daripada coverage media mainstream karena ia memiliki dua elemen krusial: akses langsung dan autentisitas pengalaman.
Transformasi naratif yang terjadi dalam kasus ini dapat dijelaskan melalui teori “moral panic” Stanley Cohen yang berevolusi menjadi “moral celebration.” Pada fase awal, media sosial menciptakan konstruksi negatif terhadap tim SAR Indonesia. Netizen Brasil yang frustrasi mentargetkan kemarahan mereka kepada Agam dan sistem penyelamatan Indonesia.
Namun, ketika Agam mulai mendokumentasikan realitas operasional melalui video real‑time, terjadi “narrative reversal” — pembalikan total konstruksi makna dari villain menjadi hero dalam hitungan hari.
Kunci dari transformasi ini terletak pada konsep “authenticity” dalam media digital. Walter Benjamin menjelaskan hilangnya “aura” dalam karya seni yang direproduksi secara massal. Paradoksnya, dalam konteks media sosial, “aura” justru dapat diciptakan kembali melalui dokumentasi real‑time yang menghadirkan sense of immediacy dan intimacy.
Video Agam yang menunjukkan dirinya bermalam di tebing vertikal bersama jenazah Juliana menciptakan “authentic moment” yang tidak dapat direplikasi oleh jurnalisme konvensional dengan segala keterbatasan akses dan protokolnya.
Penggunaan teknologi Starlink untuk live streaming dari lokasi evakuasi menciptakan apa yang Guy Debord sebut sebagai “spectacle” realitas yang termediatisasi — hingga batas antara kenyataan dan representasi menjadi kabur. Namun, berbeda dengan kritik Debord terhadap society of spectacle yang alienating, spectacle yang diciptakan Agam justru menghasilkan empati dan pemahaman mendalam tentang kompleksitas operasi penyelamatan di medan ekstrem.
Dari perspektif jurnalistik digital, fenomena ini menggarisbawahi paradigma yang bergeser dari “gatekeeping” menuju “gatewatching.” Axel Bruns menjelaskan bahwa dalam environment digital, fungsi jurnalis tidak lagi sekadar sebagai gatekeeper yang menyeleksi informasi, melainkan sebagai gatewatcher yang mengamati dan mengkurasi konten yang diproduksi oleh users.
Agam Rinjani, meskipun bukan jurnalis profesional, berhasil melakukan citizen journalism yang bahkan lebih berdampak daripada liputan media tradisional karena proximity dan perspektif first‑person yang tidak dapat ditandingi.
Benedict Anderson dalam Imagined Communities menjelaskan bagaimana media cetak menciptakan komunitas terbayang dalam konteks nation‑building. Dalam era digital, fenomena Agam Rinjani menunjukkan bagaimana media sosial mampu menciptakan “transnational imagined community” yang melampaui batas geografis dan budaya. Netizen Brasil yang memberikan apresiasi kepada Agam menciptakan solidaritas virtual berbasis pada nilai kemanusiaan universal, bukan kedekatan geografis atau kesamaan budaya.
Menariknya, Agam menggunakan popularitas viralnya bukan untuk keuntungan pribadi, melainkan untuk advokasi. Ia mengekspos kelemahan sistemik dalam infrastruktur keselamatan pendakian, seperti tidak tersedianya shelter darurat dan masalah kepemilikan alat rescue di kawasan Rinjani. Ini mendemonstrasikan potensi transformatif viral content sebagai instrumen advokasi sosial dan kritik kebijakan.
Pierre Bourdieu dalam Distinction memperkenalkan konsep “cultural capital” yang dalam konteks digital dapat dipahami sebagai kemampuan mengakumulasi social media capital melalui konten viral. Agam berhasil mengonversi tragedi menjadi cultural capital, memperoleh 1,5 juta followers dalam hitungan hari. Namun, konversi ini tidak terjadi melalui eksploitasi tragedi, melainkan melalui dokumentasi autentik tentang keberanian manusia dan dedikasi profesional.
Michel Foucault dalam analisanya tentang discourse menjelaskan bagaimana kekuasaan dan pengetahuan saling terkait dalam konstruksi kebenaran. Dalam kasus Agam Rinjani, terjadi pergeseran discourse dari otoritas institusional menuju otoritas pengalaman (experiential authority). Kredibilitas tidak lagi ditentukan oleh posisi institusional atau kredensial profesional, melainkan oleh pengalaman langsung dan kemampuan mengkomunikasikannya secara autentik melalui platform digital.
Dari perspektif antropologi digital, fenomena ini juga menunjukkan transformasi ritual dan upacara dalam masyarakat kontemporer. Tindakan Agam bermalam di tebing bersama jenazah dapat dipahami sebagai ritual modern yang memiliki dimensi spiritual dan makna budaya, dikomunikasikan melalui medium digital untuk audiens global. Ini menciptakan bentuk hybrid antara praktik ritual tradisional dan digital storytelling modern.
Ketika peristiwa tragis menjadi bahan mentah untuk produksi konten viral, bagaimana kita memastikan bahwa martabat korban tetap terjaga? Bagaimana membedakan antara dokumentasi autentik dan heroisme performatif untuk konsumsi media sosial?
Fenomena Agam Rinjani pada akhirnya menunjukkan bahwa dalam era digital, kekuatan untuk bercerita telah terdistribusi secara demokratis. Individu dengan akses, autentisitas, dan kemampuan komunikasi dapat membentuk counter‑narrative yang lebih kuat daripada media institusional. Namun, dengan kekuatan besar datang tanggung jawab besar. Digital storytellers seperti Agam harus sadar akan implikasi etis dari produksi konten viral dan menggunakan platform mereka untuk tujuan konstruktif.
Pembelajaran utama dari fenomena ini adalah bahwa jurnalistik digital telah menciptakan paradigma baru dalam konstruksi heroisme, produksi kebenaran, dan komunikasi lintas budaya. Media sosial bukan sekadar alat distribusi informasi, melainkan arena di mana makna dikonstruksi, identitas dibentuk, dan solidaritas antar budaya tercipta.
Dalam konteks Indonesia sebagai destinasi wisata global, fenomena Agam Rinjani menunjukkan potensi media digital sebagai instrumen soft power yang dapat mengubah persepsi internasional tentang kompetensi profesional dan nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia.
Ke depan, penting bagi praktisi media, pembuat kebijakan, dan para digital content creator untuk memahami dinamika ini dan menggunakannya secara bertanggung jawab untuk nation-building dan pemahaman lintas budaya—bukan sekadar untuk viral fame atau eksploitasi komersial.
