Esai oleh Darmadi H. Tariah
Hari ketiga Festival Kala Monolog 2025 di Aula Benteng Rotterdam menegaskan bahwa panggung monolog di Makassar tidak hanya hidup, bahkan sanggup memikul beban ingatan sejarah, krisis ekologis, dan kegelisahan moral zaman ini. Di salah satu aula dalam benteng yang menyimpan jejak kolonialisme, tiga lakon monolog dihadirkan sebagai rangkaian pembacaan atas Ale’ Lino, konsep kosmologi Bugis dalam I La Galigo yang menunjuk pada Dunia Tengah. Ale’ Lino berada di antara botting langi atau dunia atas dan uri’ lino atau dunia bawah. Ia adalah ruang eksistensi manusia, tempat tubuh, alam, dan leluhur saling berjumpa, saling menguji, sekaligus saling menuntut pertanggungjawaban.
Pemilihan tema Ale’ Lino menjadi pernyataan kuratorial yang penting. Di satu sisi, ia mengembalikan imajinasi teater pada kosmologi lokal Bugis yang sering disederhanakan menjadi latar folklor atau ornamen identitas. Di sisi lain, Ale’ Lino dibaca sebagai metafora situasi kontemporer, tentang manusia yang hidup di tengah modernitas yang terakselerasi, teknologi yang kian dominan, kota yang mengeras menjadi beton, dan sejarah kekerasan politik yang belum tuntas diurai. Festival ini menjadikan Dunia Tengah bukan ruang netral di antara langit dan bumi, melainkan wilayah krisis, tempat nilai leluhur, etika ekologis, dan realitas sosial kontemporer saling bergesekan.
Tiga monolog pada hari ketiga memperlihatkan bagaimana gagasan Dunia Tengah itu diwujudkan melalui tiga jenis tubuh. Dalam Perempuan yang Disunyikan Takdir, tubuh Marni hadir sebagai tubuh perempuan yang ditandai sejarah kekerasan politik 1965, bayang-bayang stigma eks Gerwani, dan kehilangan yang tidak pernah selesai. Dalam Dongeng di Antara Beton dan Pohon, tubuh nonmanusia berupa ayam jago dan kambing menjadi medium untuk menuturkan pengusiran ruang hidup ekologis di tengah kota yang mengagungkan kemajuan. Sementara dalam Hukum Mencuci Piring, tubuh seorang pencuci piring di dapur klinik aborsi ilegal membawa penonton pada wilayah abu-abu etika, antara pekerjaan domestik, rasa bersalah, dan upaya penebusan yang tidak pernah benar-benar tuntas.
Melalui tiga tubuh inilah Ale’ Lino mendapatkan bentuk konkret di panggung. Dunia Tengah tidak hadir sebagai slogan tematik, melainkan sebagai situasi yang sungguh dialami. Marni terombang ambing antara Solo dan Kotabumi, antara masa lalu dan masa kini. Hewan-hewan fabel terjepit di tanah kosong yang perlahan dikepung beton. Pekerja dapur terperangkap antara kotoran piring dan kotoran moral sistem yang lebih besar dari dirinya. Tubuh di panggung menjadi arsip ingatan, medan konflik antara manusia dan lingkungan, sekaligus titik masuk untuk membaca biopolitik zaman ini.
Tulisan ini berangkat dari sejumlah pertanyaan penting. Bagaimana tiga monolog ini menafsirkan Ale’ Lino sebagai ruang eksistensi yang rapuh sekaligus politis. Sejauh mana tubuh, ruang, dan ingatan bekerja sebagai perangkat artistik untuk memeriksa kembali relasi manusia dengan sejarah, lingkungan, dan moralitas. Dengan menggunakan perspektif politik tubuh, ekokritik, dan kajian pertunjukan, esai ini berargumen bahwa hari kedua Festival Kala Monolog 2025 menghadirkan Ale’ Lino sebagai Dunia Tengah yang retak. Retak karena dibebani trauma sejarah, retak karena dirongrong urbanisasi yang rakus, retak karena diguncang dilema etika reproduksi. Namun justru di dalam keretakan itulah teater menemukan relevansinya sebagai ruang perenungan, perlawanan, dan perundingan ulang tentang apa artinya hidup bersama di Dunia Tengah hari ini.
Menjajarkan Ale’ Lino, Tubuh, dan Krisis Zaman
Upaya membaca pementasan monolog hari ketiga berarti menempatkan Ale’ Lino sebagai lensa analitis. Dunia Tengah dipahami sebagai posisi di antara berbagai tarikan yang saling berlawanan, misalnya antara ingatan dan pelupaan, antara alam dan kota, antara keyakinan moral dan praktik yang meragukan. Dengan cara itu, Ale’ Lino tidak berhenti pada wilayah mitologi Bugis, tetapi bergeser menjadi kerangka untuk membaca ketegangan hidup di masa kini yang tampil di panggung monolog.
Konsep liminalitas membantu mengasah lensa tersebut. Liminalitas menunjuk pada keadaan ambang ketika seseorang atau sebuah komunitas belum sepenuhnya berada di dalam tatanan lama, namun juga belum menginjak tatanan baru. Tiga monolog yang menjadi fokus esai ini dapat dibaca sebagai pementasan kondisi ambang semacam itu. Tokoh-tokohnya tidak bergerak di dunia yang stabil, melainkan di wilayah peralihan yang gamang. Dengan memakai gagasan liminalitas, analisis dapat menangkap kerentanan dan potensi transformasi yang tersimpan di dalamnya.
Perspektif politik tubuh dan ingatan kemudian mengarahkan perhatian pada bagaimana tubuh diperlakukan di panggung. Tubuh dalam monolog tidak hadir sebagai wadah netral, tetapi sebagai permukaan tempat jejak kekerasan, stigma, dan ketimpangan kuasa terpatri. Cara aktor mengelola napas, jeda, tangis, tawa, serta perubahan gestur akan dibaca sebagai bentuk artikulasi ingatan yang sulit diucapkan secara langsung. Melalui kacamata ini, analisis diarahkan bukan pada plot, melainkan pada bagaimana tubuh menyimpan dan mengedarkan memori, termasuk memori tentang kekerasan politik dan rasa bersalah yang menahun.
Ekokritik menjadi pijakan lain untuk membaca pertunjukan yang menyentuh isu lingkungan dan kota. Fokus utamanya adalah relasi antara manusia, makhluk lain, dan ruang hidup yang terus mengalami tekanan. Dari sudut pandang ini, monolog yang menghadirkan konflik antara ruang ekologis dan ekspansi kota modern akan dibaca sebagai pernyataan tentang siapa yang berhak atas tempat tinggal, siapa yang tersisih, dan bagaimana bahasa pembangunan menutupi perampasan yang berlangsung. Ekokritik memungkinkan analisis menangkap lapisan politis dalam pilihan metafora, citraan, dan konfigurasi ruang panggung yang melibatkan beton, tanah, dan sosok-sosok nonmanusia.
Dimensi etika dan biopolitik memberi kedalaman pada pembacaan terhadap monolog yang mengangkat dapur, klinik, dan aborsi. Di sini perhatian diarahkan pada bagaimana kerja domestik, tubuh yang rentan, dan keputusan tentang hidup mati diatur oleh jaringan kuasa yang tidak selalu tampak. Aktivitas rutin seperti mencuci piring akan dilihat sebagai gerak yang bertemu dengan rasa bersalah, penyangkalan, dan keinginan untuk membersihkan sesuatu yang tidak terhapus. Perspektif ini membantu menganalisis distribusi tanggung jawab moral di antara tokoh, serta melihat siapa yang memikul beban paling berat dalam struktur sosial yang timpang.
Pada akhirnya, seluruh kerangka baca itu bertumpu pada cara pertunjukan hadir di depan penonton. Esai ini memperhatikan bagaimana tubuh, suara, ritme, dan pilihan penataan panggung bekerja bersama membentuk pengalaman menonton. Dengan begitu, ulasan tetap melekat pada peristiwa konkret di ruang pertunjukan, bukan terlepas dari apa yang terjadi di hadapan penonton.
Festival sebagai Ruang Kuratorial Ale’ Lino
Pada hari ketiga, Festival Kala Monolog 2025 tampil bukan hanya sebagai rangkaian pementasan tunggal, melainkan sebagai susunan yang jelas terasa hasil dari pilihan kuratorial. Tiga monolog disusun berurutan di Aula Benteng Rotterdam sehingga penonton mengalami satu malam yang bergerak dari luka sejarah, menuju keresahan ekologis kota, lalu berlabuh pada kegelisahan moral yang intim. Urutan ini membuat tema Ale’ Lino hadir sebagai lintasan yang pelan pelan dirakit di hadapan penonton, bukan sebagai label yang ditempel di permukaan acara.
Pilihan Benteng Rotterdam sebagai lokasi pementasan memberi warna tersendiri bagi festival. Aula di dalam kompleks benteng yang menghadap laut itu membawa ingatan panjang mengenai lalu lintas kekuasaan, perdagangan, dan kontrol militer. Ketika festival teater hadir di ruang ini, peristiwa panggung otomatis berdialog dengan sejarah bangunan, juga dengan citra Makassar sebagai kota pelabuhan yang kini bergerak menuju kota jasa dan pariwisata. Penonton yang duduk menyimak monolog tidak hanya berada di dalam ruang aula, tetapi juga di dalam lapisan ingatan yang melekat pada dinding dan halaman benteng. Kurasi festival memanfaatkan situasi ini dengan menghadirkan lakon-lakon yang tidak nyaman dipandang dari kacamata perayaan wisata belaka.
Dari sudut pandang penyusunan program, tiga monolog tersebut membentuk semacam triptych yang saling mengait. Perempuan yang Disunyikan Takdir membuka pentas hari ketiga dengan intensitas emosional yang kuat, seolah mengajak penonton memasuki dunia batin seorang perempuan yang membawa sejarah panjang yang nyaris dilupakan. Dongeng di Antara Beton dan Pohon lalu menggeser fokus penonton menuju persoalan ruang hidup yang perlahan direbut oleh kota modern, namun dibahas dengan gaya fabel yang ringan sekaligus getir. Hukum Mencuci Piring menutup malam dengan skala ruang yang lebih sempit, hanya dapur dan wastafel, namun justru di sanalah persoalan moral dan tanggung jawab pribadi terasa menekan. Tiga lintasan ini membuat penonton digiring dari skala sejarah yang luas, ke lanskap kota, lalu ke sudut dapur yang sunyi, tanpa harus diberi penjelasan verbal tentang tema festival.
Kekuatan kuratorial hari ketiga terletak pada keberanian menempatkan isu-isu yang kerap dihindari dalam ruang tontonan publik di Makassar. Ingatan kekerasan politik, pembangunan yang menggerus ruang hidup, dan praktik klinik aborsi ilegal bukan bahan yang nyaman bagi banyak orang. Namun festival memilih untuk tidak memolesnya menjadi cerita manis. Sebaliknya, tema Ale’ Lino menjadi alasan untuk mempertemukan berbagai bentuk ketidaknyamanan itu dalam satu malam, seolah ingin mengatakan bahwa Dunia Tengah yang kita tempati hari ini memang penuh retakan. Dengan demikian, festival tidak hanya merayakan kemampuan teknis para aktor, tetapi juga membuka medan diskusi etis dan politis di antara penonton yang keluar dari aula setelah pertunjukan usai.
Dalam konteks ekosistem teater di Makassar, hari ketiga Kala Monolog menunjukkan upaya sadar untuk menempatkan teater monolog pada posisi yang relevan dengan perbincangan publik mutakhir. Kurasi yang menggabungkan isu sejarah, lingkungan, dan etika tubuh memperlihatkan bahwa monolog dapat menjadi medium yang ringan secara bentuk namun berat bobot gagasan. Festival menjadi ruang temu antara pekerja teater, penonton kota, dan wacana yang beredar di luar panggung, seperti perdebatan tentang rekonsiliasi sejarah, krisis iklim, dan hak atas tubuh. Di titik inilah Ale’ Lino sebagai tema menemukan pijakannya, bukan hanya dunia tengah dalam mitologi, melainkan ruang antara yang ditempati festival, yang menghubungkan teks panggung dengan kehidupan penontonnya sehari-hari.
Pembacaan Monolog “Perempuan yang Disunyikan Takdir” (Emma Hamzah sebagai Marni)
Emma Hamzah memasuki panggung dengan tubuh yang sudah tampak dipenuhi beban rentang waktu panjang. Sejak awal ia membangun Marni sebagai sosok yang hidup di wilayah rawan antara yang ingin dilupakan dan yang tidak bisa pergi. Cara ia berdiri, memegang kain selendangnya, menatap jauh ke satu titik yang tidak terlihat penonton, memberi tanda bahwa yang hadir di depan kita bukan perempuan yang tenang dengan masa lalunya. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan membawa penonton berpindah dari Solo ke Kotabumi, dari ruang keluarga yang pernah utuh ke rumah baru yang asing, tanpa perlu penjelasan panjang lebar.
Yang paling menonjol dari permainan Emma adalah intensitas emosinya. Ia tampak sangat mudah menangis ketika adegan mengarah ke titik luka, seolah lapisan antara aktor dan tokoh yang ia mainkan menjadi sangat tipis. Air matanya tidak hadir sebagai efek yang terukur, melainkan mengalir bersama suara yang kadang pecah, kadang meninggi, lalu tiba tiba melemah. Di saat lain, ia menyelipkan gerak dan nada centil, seperti ingin menunjukkan bahwa Marni juga pernah menjadi perempuan muda yang punya keinginan, bukan hanya korban sejarah. Dari kombinasi tangis dan kelincahan itu, Emma berusaha keras menarik seisi aula agar ikut masuk ke alam derita Marni, bukan hanya mengamati dari kejauhan.
Usaha tersebut terasa ketika ia mengarahkan suaranya ke seluruh penjuru ruangan, menatap ke kursi-kursi yang terisi, seakan sedang mencari wajah yang mau benar-benar mendengar. Ada momen ketika ratapannya bergeser menjadi semacam protes lirih, terutama saat ia menyentuh bagian cerita tentang suami dan bayi yang hilang. Pada titik ini, penonton tidak lagi dihadapkan pada informasi sejarah, melainkan pada rasa kehilangan yang sangat personal. Kekuatan pementasan muncul ketika emosi itu terasa menekan, namun masih dipegang cukup kendali sehingga tidak sepenuhnya pecah menjadi histeria. Di sini tampak pergulatan Emma untuk menjaga agar rasa sakit Marni tidak tergelincir menjadi sentimentalisme yang menguras air mata penonton tanpa menyisakan ruang berpikir.
Penataan panggung tampak sengaja dibuat sederhana. Tidak banyak properti, tidak ada perubahan set yang drastis. Ruang permainan seolah hanya sebuah kantong waktu kecil di tengah aula, yang dibiarkan kosong agar tubuh dan suara Emma dapat terdengar jelas. Pencahayaan pun tidak banyak berubah, hanya beberapa pergeseran intensitas yang menandai perubahan suasana, namun tidak mengganggu aliran permainan. Pilihan ini membuat perhatian penonton tertambat pada tubuh dan wajah Emma, pada detail kecil seperti cara ia duduk, mengangkat tangan, atau memeluk dirinya sendiri ketika ingatan yang menyakitkan muncul. Keterbatasan artistik justru menumbuhkan kesan intim, seolah penonton sedang menyaksikan pengakuan yang terlontar di ruang pengasingan, bukan di panggung festival.
Satu elemen artistik yang sangat kuat adalah penggunaan musik latar. Di antara beberapa pilihan bunyi, muncul lagu Genjer-genjer yang secara historis lekat dengan ingatan tentang tahun 1965 dan segala perdebatan yang menyelimutinya. Di Indonesia, lagu ini masih membawa aura tabu, karena selalu dikaitkan dengan bayangan Pemberontakan PKI dan propaganda yang menyusulnya. Ketika melodi Genjer-genjer mengisi ruang aula, suasana langsung bergeser. Kisah Marni tidak lagi terasa hanya milik satu perempuan di satu garis hidup, tetapi terhubung dengan sebuah bab sejarah yang lama dibungkam. Musik tidak menjadi hiasan, melainkan penanda yang mengikat monolog ini dengan trauma kolektif yang jauh lebih luas.
Pada saat lagu itu terdengar, tangis Emma memperoleh konteks lain. Air mata Marni bukan hanya respon terhadap kehilangan pribadi, tetapi juga gema dari generasi yang ditandai stigma yang tidak pernah tuntas diurai. Penonton yang menyadari sejarah Genjer-genjer mungkin merasakan ketegangan tersendiri, sementara mereka yang tidak mengenalnya pun masih dapat merasakan perubahan atmosfer di dalam aula. Di sinilah kejelian artistik pementasan terlihat. Musik digunakan untuk membuka lapisan makna tanpa perlu penjelasan verbal yang gamblang.
Secara keseluruhan, Perempuan yang Disunyikan Takdir pada sore itu bekerja sebagai undangan untuk menatap wajah lain dari sejarah. Emma Hamzah menanggung beban besar di atas panggung, nyaris tanpa pelarian ke humor yang ringan. Minimalnya tata panggung dan pencahayaan membuat setiap getaran suaranya, setiap tetes air mata, dan setiap senyum kecutnya menonjol. Ada saat-saat di mana intensitas emosinya hampir meluber, tetapi justru di garis batas itulah pertunjukan memperoleh daya guncang. Monolog ini mengingatkan bahwa tubuh tunggal di atas panggung dapat menjadi pintu bagi penonton untuk merasakan sebuah ingatan yang selama ini dibiarkan berada di pinggir.
Pembacaan Monolog “Dongeng di Antara Beton dan Pohon” (Santi Dewi)
Begitu Santi Dewi memasuki ruang main, penonton langsung memahami bahwa tantangan yang ia hadapi berbeda dengan monolog sebelumnya. Ia tidak memerankan manusia dengan ingatan sejarah atau dilema moral, melainkan ayam jago bernama Jaja, dan seekor kambing yang berasal dari dunia binatang. Di tangan pemain yang kurang terlatih, pilihan semacam ini mudah jatuh menjadi kelucuan yang kekanak-kanakan. Namun Santi berhasil menjaga jarak dari jebakan itu. Ia menghadirkan hewan-hewan sebagai karakter yang utuh, bukan mainan panggung untuk mengundang tawa murah.
Cara Santi memindahkan tubuhnya dari satu karakter ke karakter lain menjadi kunci penampilan malam itu. Saat menjadi Jaja, posturnya agak membungkuk, dagu menegang, langkahnya terkesan sigap seperti ayam jantan yang selalu waspada. Begitu bergeser menjadi kambing, garis punggungnya berubah, geraknya seakan lebih berat, pandangannya sedikit mengambang, seolah ada rasa bingung menghadapi perubahan lingkungan. Pergantian karakter tidak mengandalkan kostum yang rumit. Peralihan dilakukan melalui suara, ritme bicara, dan perubahan kecil pada gestur. Penonton yang duduk cukup dekat dapat menangkap perincian ini dan mengikutinya tanpa merasa digiring oleh trik yang berlebihan.
Tantangan terbesar lakon ini muncul dari bentuknya sebagai dongeng fabel. Tradisi fabel di kepala banyak orang lekat dengan kisah sebelum tidur untuk anak, yang sarat pesan moral eksplisit. Santi tampil di hadapan penonton dewasa yang datang pada malam hari, di sebuah festival teater, dengan harapan yang berbeda. Ia harus menjaga agar dunia binatang yang ia bangun tidak tergelincir menjadi ilustrasi buku pelajaran. Untuk itu, ia memilih tonasi permainan yang tidak terlalu manis. Sesekali ia menyelipkan humor, tetapi selalu dengan ujung getir. Tawa yang muncul di aula bukan tawa lepas, melainkan tawa yang mengandung rasa tidak enak, karena penonton sadar bahwa yang sedang diceritakan adalah hilangnya rumah bagi makhluk hidup.
Dialog dan monolog dalam lakon ini terasa renyah. Kalimat-kalimatnya ringan didengar, namun tajam ketika diperhatikan isi dan konteksnya. Santi menyuarakan kegelisahan Jaja dan kawannya mengenai tanah kosong yang dulu menjadi tempat bermain, berteduh, dan mencari makan, tetapi kini mulai dipasangi tiang besi dan papan pengumuman proyek. Di sela percakapan itu, muncul sindiran terhadap gaya hidup eco living dan green living yang banyak diiklankan di kota besar. Istilah-istilah ramah lingkungan, ruang hijau, dan gaya hidup sehat muncul sebagai bahan olok-olok halus, terutama ketika dikaitkan dengan kafe berjargon ekologis sambil mengabaikan jejak riil dari bahan dan limbah yang mereka hasilkan.
Di tangan Santi, satire ini tidak diceramahkan. Ia memerankan binatang yang kebingungan melihat manusia yang seolah kadang sibuk memotret minuman dengan hiasan daun, lalu mengunggahnya dengan tagar hijau, sementara tanah tempat mereka tinggal perlahan dilapisi semen. Kontras antara bahasa promosi yang cantik dan pengalaman langsung para binatang yang terusir membuat penonton tersenyum miris. Lakon ini mengingatkan bahwa krisis iklim tidak akan pernah selesai jika dijawab hanya dengan kemasan gaya hidup yang trendi. Fabel yang dimainkan di aula benteng tiba-tiba terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di kota yang penuh kafe bertema alam dan perumahan baru berlabel ramah lingkungan.
Pilihan artistik ruang dan tata suara ikut memperkuat tontonan ini. Lantai pentas relatif ramai dengan hiasan seolah tumbuh-tumbuhan, menjadi area bermain tubuh Santi yang tetap menjadi titik perhatian utama. Ketika suara kota dimunculkan, bunyi itu tidak mendominasi, tetapi cukup memberi bayangan dunia di luar tanah kosong. Di antara bunyi-bunyi itu, suara Santi yang menyuarakan kebingungan Jaja dan kawannya terdengar seperti upaya kecil untuk bertahan menghadapi gelombang besar perubahan. Ruang bermain di panggung terasa menyempit, bukan karena properti bertambah, melainkan karena penonton membayangkan bagaimana ruang hidup para binatang itu terdesak oleh proyek pembangunan.
Dari sisi permainan, Santi menghadapi dua lapis tantangan yang rumit. Pertama, ia harus membuat penonton percaya bahwa ia adalah binatang, tanpa mengandalkan kostum realistis. Kedua, ia harus menghindari gaya akting yang terlalu kekanak-kanakan agar fabel ini tetap relevan bagi penonton dewasa. Ia menyiasatinya dengan memilih ekspresi yang tidak berlebihan. Suaranya tidak diubah menjadi suara kartun, melainkan hanya diberi sedikit aksen untuk menandai karakter. Geraknya juga tidak mengikuti pola hewan secara harfiah, tetapi mengambil esensinya. Dengan pendekatan ini, penonton tidak diarahkan untuk melihat hewan sebagai objek lucu, melainkan sebagai subjek yang memiliki perasaan, ketakutan, dan hak atas ruang hidup.
Pengaruh pilihan itu terasa pada cara penonton menyikapi akhir pementasan. Tepuk tangan yang muncul bukan jenis tepuk tangan yang biasanya menyambut pertunjukan lucu, tetapi tepuk tangan yang menyimpan sisa renungan. Dongeng di Antara Beton dan Pohon berhasil memanfaatkan bentuk fabel untuk menyajikan kritik yang jernih terhadap wajah kota metropolitan yang menyukai jargon hijau, namun tetap rakus terhadap lahan. Santi Dewi menunjukkan bahwa satu tubuh di panggung dapat menghidupkan berbagai spesies, sekaligus menghidupkan pertanyaan yang sulit diabaikan. Siapa yang sesungguhnya menanggung biaya gaya hidup hijau yang terus dijual di ruang publik, dan sampai kapan mereka masih punya tempat untuk berdiri.
Pembacaan Monolog “Hukum Mencuci Piring” (Syam Ancoe Amar)
Sejak awal pementasan, Hukum Mencuci Piring menghadirkan suasana yang terasa ganjil. Ruang yang tampak hanyalah wastafel, piring-piring kotor, dan peralatan kuret. Di sana berdiri seorang pencuci piring yang bekerja di klinik aborsi ilegal. Tokoh yang diperankan Syam Ancoe Amar ini tampak menjalani rutinitas lazim, menggosok piring, membilas, menumpuk, mengulang. Namun semakin lama monolog berjalan, semakin jelas bahwa dapur itu berada di samping ruang praktik yang jauh lebih kelam. Air yang mengalir dari keran dan busa sabun perlahan terasa menyimpan rahasia yang tidak sanggup diucapkan dengan ringan.
Naskah menghadirkan lapis ironi yang pertama melalui kemudahan tokoh ini terseret ke jantung persoalan aborsi. Pekerjaannya tampak sederhana di permukaan, membersihkan piring dan peralatan, memastikan ruang dapur rapi. Akan tetapi tugas itu membuatnya berada sangat dekat dengan seluruh proses yang terjadi di klinik. Ia mendengar suara-suara pasien, mencium sisa bau obat, melihat noda yang tertinggal di peralatan. Dalam percakapan yang ia bangun dengan dirinya sendiri, perlahan muncul kesadaran bahwa pekerjaannya bukan hanya mengurus kotoran biasa. Setiap piring yang ia cuci, setiap alat yang ia bilas, serasa ikut membersihkan jejak dari keputusan yang menyangkut hidup dan mati. Di sinilah ironi pertama menguat. Tindakan membersihkan yang biasanya identik dengan kebaikan berubah menjadi bagian dari mekanisme yang mengaburkan konsekuensi moral.
Pada beberapa bagian, ia tidak hanya mencuci piring, tetapi juga membersihkan peralatan kuret di wastafel yang sama. Gerakannya teliti, hampir seperti ritual, sementara ia terus berbicara kepada dirinya sendiri. Bagi saya sebagai penonton, momen ketika mencuci kuret itu menjadi titik horor yang sesungguhnya. Benda logam itu menghadirkan bayangan tentang tubuh perempuan yang paling berharga, tentang organ reproduksi yang mestinya menjaga keberlangsungan hidup manusia. Di dalam imajinasi, kuret itu berubah menjadi alat yang memutus kemungkinan hidup, menggeser rahim dari ruang perlindungan menjadi lokasi kehancuran. Tanpa menampilkan darah di panggung, pementasan ini mampu memanggil rasa ngeri yang bertahan lama setelah adegan berganti.
Syam memainkan kontradiksi ini dengan cukup halus. Ada saat-saat ketika ia tampak seperti pekerja yang bangga pada ketelitiannya, menceritakan bagaimana dapur harus selalu bersih, bagaimana piring yang berkilau mencerminkan profesionalisme klinik. Namun di antara kalimat itu, muncul komentar kecil yang menyiratkan keraguan. Nada suaranya bergeser, matanya menatap ke satu titik di luar panggung, seolah ada sesuatu yang terus mengganggu. Gerakannya yang berulang ketika menggosok piring tidak lagi terasa sebagai rutinitas biasa, melainkan upaya menutupi kegelisahan batin. Penonton pelan-pelan diajak menyadari bahwa tokoh ini terlibat terlalu jauh dalam sesuatu yang ia sendiri sulit terima, namun ia tidak punya posisi tawar untuk keluar.
Lapis ironi kedua yang lebih menyakitkan muncul ketika latar belakang tokoh mulai terkuak. Ia mengisahkan masa kecilnya, hubungan dengan ibunya, dan kenyataan pahit bahwa sejak awal ia merasa sebagai anak yang tidak diinginkan. Cerita ini tidak disajikan sebagai curahan hati sentimental, melainkan hadir di sela kerja tangan yang tetap sibuk mengurus piring dan alat dapur. Setiap kali ia menyebut bayi yang tidak lahir, bayangan tentang dirinya sendiri sebagai anak yang dulu tidak diinginkan menjadi kerak piring yang tidak bisa dibersihkan. Dari titik ini, setiap fetus yang mati di klinik tidak lagi abstrak. Bagi sang pencuci piring, mereka mirip cermin yang memantulkan kembali luka lama yang belum sembuh.
Syam mengelola bagian ini dengan intensitas yang terukur. Suaranya sesekali retak ketika menceritakan bagaimana ibunya dulu memandangnya, lalu kembali mengeras ketika ia berusaha meyakinkan diri bahwa semua ini hanya pekerjaan. Gerak tangannya yang memegang piring menjadi semakin kaku. Penonton dapat merasakan pertarungan batin yang konstan. Di satu sisi, ia ingin tetap berfungsi sebagai pekerja yang rapi dan efektif di dapur. Di sisi lain, ia tidak sanggup memutus kaitan antara pekerjaannya dan trauma yang terus diperkuat oleh setiap tubuh kecil yang tidak pernah sempat hidup.
Puncak pertunjukan terjadi ketika pertarungan batin itu meledak. Dalam satu momen, tokoh ini membanting piring ke lantai. Suara pecahannya menghantam ruang aula dan sejenak membuat suasana beku, kaget dan sesak. Adegan ini tidak terasa sebagai kejutan murah, karena sejak awal monolog telah menumpuk ketegangan melalui repetisi kerja dan pengakuan-pengakuan lirih. Ketika piring itu pecah, penonton menangkap bahwa batas kesanggupan tokoh sudah dilampaui. Pecahan piring putih yang berserakan di lantai tiba-tiba menjadi benda yang berbahaya.
Lalu muncul adegan yang mungkin paling sulit ditonton malam itu. Sang pencuci piring mengambil pecahan dan mengarahkannya ke pergelangan tangannya sendiri. Geraknya tidak terburu-buru, tetapi penuh tekad, bergetar putus asa. Niat untuk mengakhiri hidup hadir bukan sebagai dramatisasi kosong, melainkan sebagai konsekuensi dari luka yang terus diperbarui, hari demi hari, di ruang kerja yang sempit itu. Penonton menyaksikan tubuh yang selama ini patuh menjalankan tugas di dapur akhirnya mencoba mengakhiri semua suara di kepalanya dengan cara paling ekstrem.
Upaya bunuh diri itu tidak benar-benar terjadi. Ada momen ragu, ada sesuatu yang membuatnya berhenti, entah ingatan, rasa takut, atau sisa naluri untuk bertahan. Namun intensitas adegan terlanjur mengurung aula. Syam berhasil menjaga agar adegan tersebut tidak jatuh pada dramatisasi berlebihan. Napasnya yang terengah, tatapan yang kosong, dan tangan yang gemetar sambil memegang pecahan piring sudah cukup membuat penonton merasakan beratnya ledakan batin itu.
Hukum Mencuci Piring pada akhirnya menghadirkan cerita tentang seseorang yang setiap hari membersihkan kotoran, namun tidak pernah benar-benar bersih dari beban yang ia tanggung. Dua lapis ironi bekerja saling mengikat. Pertama, ia terseret menjadi bagian dari proses yang mengakhiri kehidupan, sementara pekerjaannya di permukaan tampak sangat rutin. Kedua, ia membawa sejarah pribadi sebagai anak yang merasa ditolak, sehingga setiap tindakan di klinik seperti mempertebal luka yang sudah ada. Melalui permainan Syam Ancoe Amar, monolog ini menjadi pengalaman menonton yang padat dan menghantui. Penonton keluar dari aula dengan bayangan tentang dapur, piring, dan pecahan putih di lantai yang sulit dilupakan.
Benang Merah Estetika dan Politik Tiga Monolog
Jika setiap monolog pada hari ketiga berdiri dengan dunianya masing masing, pengalaman menonton satu malam penuh justru memperlihatkan satu garis yang menghubungkan ketiganya. Di ujung rangkaian, yang terasa bukan tiga cerita terpisah, melainkan satu lanskap yang dipenuhi sosok-sosok yang hidup di wilayah antara. Dari sana, benang estetika dan politik festival mulai tampak.
Dari segi bentuk, tiga pementasan menyajikan ragam cara bercerita yang saling melengkapi. Ada monolog yang menekan emosi sampai ke titik nyeri, ada yang meminjam kelincahan dongeng, dan ada yang bergerak di wilayah keseharian yang tampak biasa tetapi pelan-pelan berubah menjadi ruang yang menyesakkan. Perbedaan ini tidak membuat rangkaian terasa terpecah, sebab semua berpijak pada kehadiran satu tubuh di panggung yang harus menanggung dunia yang jauh lebih besar dari dirinya. Di mata penonton, perbedaan gaya justru memperluas medan bayangan tentang bagaimana krisis zaman menyentuh berbagai lapis pengalaman.
Komposisi panggung yang cenderung hemat memperkuat kesan tersebut. Keterbatasan properti, perubahan cahaya yang tidak mencolok, serta fokus pada suara dan gestur membuat tubuh aktor menjadi pusat perhatian. Detail kecil yang terjadi di wajah, tangan, atau cara melangkah menjadi penting, karena di situlah penonton membaca dorongan batin dan pergulatan yang tidak selalu diucapkan. Estetika yang dihasilkan bukan kemegahan visual, melainkan ketelitian dalam mengolah kehadiran di ruang yang relatif sederhana.
Di balik pilihan bentuk itu, bekerja garis politik yang senada. Ketiga monolog sama-sama memperlihatkan bagaimana individu berhadapan dengan struktur yang lebih kuat dan sering kali tidak terlihat. Ada bayangan kekuasaan negara yang menandai tubuh, ada kota yang mengatur siapa yang berhak tinggal di mana, dan ada praktik medis yang menggantungkan beban moral pada mereka yang posisinya paling lemah. Politik hadir sebagai ketegangan dalam relasi antara tokoh dan lingkungan di sekitarnya, bukan sebagai slogan yang diucapkan terus terang.
Ketiganya juga berbagi perhatian pada cara luka dan ingatan diolah di hadapan orang lain. Satu tokoh memilih bercerita dengan getir, tokoh lain melapisi pengalamannya dengan humor yang pahit, sementara tokoh yang terakhir berusaha bertahan melalui kerja rutin sampai tekanan itu meledak. Tidak ada jawaban yang benar-benar menutup persoalan. Yang tampak adalah berbagai upaya untuk memberi bentuk pada rasa yang sulit ditanggung sendirian. Dari situ muncul pertanyaan yang lebih luas tentang siapa yang menanggung biaya dari kekerasan sejarah, pembangunan yang rakus, dan keputusan moral yang berat.
Jika kembali mengingat Ale’ Lino sebagai Dunia Tengah, tiga monolog ini menunjukkan bahwa ruang di antara berbagai tarikan itu tidak pernah sunyi. Dunia Tengah tampak sebagai kawasan yang retak, namun justru di sanalah teater menemukan daya hidupnya. Dengan mempertemukan penonton dan tiga tokoh yang masing masing terjebak di wilayah antara, festival merajut benang estetika dan politik menjadi satu pengalaman yang mengajak penonton memikirkan ulang posisi mereka sendiri di dunia yang tidak lagi kokoh.
Ruang, Penonton, dan Pengalaman Menyaksikan
Malam itu, Aula Benteng Rotterdam bekerja bukan hanya sebagai latar fisik bagi festival. Ruangan yang memanjang, langit-langit yang tidak terlalu rendah, serta dinding yang menyimpan gema masa lalu membuat setiap suara di panggung terasa berlapis. Kursi penonton ditata menghadap lantai pentas yang sama tinggi, sehingga jarak antara tubuh aktor dan tubuh penonton hanya beberapa langkah. Tidak ada pemisah yang mewah. Yang membatasi hanyalah udara, bunyi, dan cahaya yang berganti pelan. Situasi semacam ini membuat penonton tidak bisa sepenuhnya bersembunyi di dalam kegelapan. Mereka diajak hadir, sadar akan kehadirannya sendiri sebagai bagian dari peristiwa.
Pengalaman menonton bertumpu pada kedekatan pandangan. Dalam monolog pertama, penonton dapat melihat dengan jelas garis air mata di wajah Emma Hamzah, cara ia mengusap pipi, atau detik ketika suaranya terputus lalu berusaha bangkit lagi. Pada monolog kedua, pergeseran tubuh Santi Dewi dari ayam jago ke kambing dan kembali lagi terasa begitu nyata, seolah perpindahan tersebut terjadi hanya beberapa jengkal dari kaki penonton. Dalam monolog ketiga, bunyi piring yang bergesek, suara air, juga detik ketika pecahan menyentuh lantai, semuanya hadir dengan jarak yang nyaris intim. Aula menjadi ruang yang memperbesar detail kecil, menyeret penonton untuk memperhatikannya.
Hubungan antara pertunjukan dan penonton juga dibentuk oleh cara senyap bekerja di ruangan itu. Ada momen-momen ketika aula terasa sangat sunyi, tetapi kesunyian itu penuh dengan tarikan napas tertahan. Misalnya ketika lagu yang sensitif secara historis mengalun di monolog pertama, atau ketika kuret muncul di tangan pencuci piring dalam monolog terakhir. Tidak ada seruan langsung kepada penonton, namun hening yang tercipta justru menjadi bentuk percakapan yang paling kuat. Penonton merespons dengan diam, tetapi diam yang penuh kesadaran.
Dinamika emosi sepanjang malam mengalir seperti gelombang yang datang berlapis. Monolog pertama menarik penonton ke dalam wilayah luka pribadi yang terasa berat. Monolog kedua menggeser perasaan itu menjadi tawa yang getir, karena banyak kalimat yang disusun dengan humor, meski menyimpan kegetiran. Monolog ketiga menutup rangkaian dengan ketegangan yang membuat tubuh penonton ikut menegang, terutama ketika piring pecah dan ancaman melukai diri sendiri muncul di depan mata. Perubahan suasana ini tidak terasa patah, melainkan seperti perjalanan yang pelan-pelan menurunkan penonton dari satu tebing emosi ke tebing berikutnya.
Dari sisi teknis, tata cahaya dan tata suara tidak mengambil alih perhatian, tetapi ikut mengukir pengalaman menonton. Cahaya jarang benar-benar padam total, sehingga penonton masih dapat menangkap kehadiran satu sama lain. Hal ini penting, karena membuat mereka tidak merasa sedang sendirian menyaksikan sesuatu yang berat. Bunyi musik, suara kota, dan denting piring muncul dalam kadar yang cukup, tidak menenggelamkan suara aktor, tetapi menambah tekstur pada ruang dengar. Ketika pecahan piring menghantam lantai, misalnya, gema suaranya seperti menembus dinding aula dan menempel di telinga penonton untuk beberapa saat.
Sesudah pertunjukan usai, cara penonton meninggalkan ruang juga menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Tidak ada euforia keras yang meledak. Tepuk tangan memang terdengar panjang, tetapi diikuti dengan langkah yang pelan dan obrolan lirih di beranda luar. Beberapa orang tampak memilih duduk dulu di teras sebelum beranjak pulang, seolah perlu waktu untuk menurunkan intensitas suasana. Di titik ini, aula yang tadinya menjadi ruang bersama untuk menatap tiga tokoh di panggung, berubah menjadi ruang transisi bagi penonton untuk menata kembali perasaan dan pikiran sebelum kembali ke kehidupan masing-masing.
Dengan demikian, pengalaman menyaksikan hari ketiga Festival Kala Monolog tidak hanya dibentuk oleh naskah dan permainan aktor, tetapi juga oleh cara ruang, penonton, dan momen-momen kecil saling menyilang. Benteng Rotterdam, yang biasanya hadir sebagai ikon wisata sejarah, malam itu menjadi tempat di mana tubuh-tubuh fiktif dan tubuh-tubuh nyata bertemu dalam satu jaringan pengalaman. Penonton tidak hanya membawa pulang cerita, tetapi juga sisa bunyi, bayangan cahaya, dan sensasi fisik yang melekat di badan mereka sendiri.
Posisi Festival Kala Monolog 2025 dalam Medan Kebudayaan
Hari ketiga Festival Kala Monolog 2025 memperlihatkan bahwa teater monolog di Makassar mampu berbicara jauh melampaui lingkup komunitas seni yang akrab berkumpul di ruang-ruang latihan. Melalui tiga lakon yang memusatkan perhatian pada tubuh yang terluka, ruang hidup yang menyempit, dan pilihan-pilihan etis yang sulit, festival ini menempatkan dirinya di jantung percakapan kebudayaan hari ini. Ale’ Lino yang diangkat sebagai tema bukan hanya menjadi penanda identitas lokal, tetapi menjelma menjadi cara memikirkan posisi manusia di dunia yang penuh ketegangan.
Dengan menempatkan persoalan ingatan, kota, dan tubuh di pusat panggung, festival ini memperlihatkan bahwa teater monolog sanggup mengambil peran yang nyata dalam percakapan publik di Makassar. Ia hadir bukan hanya sebagai peristiwa seni, melainkan juga sebagai ajakan untuk menimbang kembali cara kita memandang sejarah, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Dari sini tampak bahwa Kala Monolog tidak berhenti pada upaya meramaikan agenda budaya kota, tetapi ikut menyumbang cara baru untuk membicarakan persoalan yang selama ini sering dihindari.
Peran monolog tampak penting di sini. Dengan hanya satu tubuh di panggung, setiap pementasan menuntut fokus sekaligus empati penonton. Tidak ada keramaian aktor yang bisa menjadi pelindung. Justru kesunyian komposisi menjadi kekuatan. Satu suara, satu tubuh, satu ruang kecil di atas lantai pentas mampu membuka gerbang menuju medan yang lebih luas, dari sejarah politik nasional sampai krisis iklim global. Dalam konteks inilah, Kala Monolog memberi sumbangan signifikan pada wacana tentang bagaimana seni pertunjukan dapat tetap ringkas dalam bentuk, tetapi dalam bobot persoalan.
Meski demikian, rangkaian pada hari ketiga juga menyimpan potensi pengembangan. Ke depan, kedalaman tema yang sudah dihadirkan dapat diperkaya dengan ruang diskusi publik yang lebih terstruktur selepas pertunjukan. Pertemuan antara pelaku teater, penonton, peneliti, aktivis lingkungan, dan pemerhati isu kesehatan reproduksi misalnya, dapat menjadikan festival ini simpul yang mempertemukan berbagai disiplin. Dengan cara itu, gagasan yang lahir di panggung tidak berhenti di ruang aula, tetapi bergerak ke ruang-ruang lain di kota, dari kampus sampai komunitas.
Dalam skema yang lebih luas, Festival Kala Monolog 2025 menandai upaya penting untuk menempatkan Makassar sebagai kota yang tidak hanya memproduksi acara budaya, tetapi juga pemikiran melalui seni. Dengan menjalin hubungan antara kosmologi lokal, persoalan ekologis, dan pergulatan etis manusia urban, festival ini menunjukkan bahwa panggung monolog dapat menjadi laboratorium kecil untuk mempertanyakan arah zaman. Dari sana, penonton diajak pulang dengan membawa sesuatu yang lebih dari tiket dan kenangan visual, yaitu kegelisahan yang pelan-pelan mengajak mereka memikirkan kembali posisi diri di Dunia Tengah yang mereka tempati.




















