Di Bawah Bayang Jalan Layang, Makassar Mencari Jalan Keluar

Di Bawah Bayang Jalan Layang, Makassar Mencari Jalan Keluar

Read Time:4 Minute, 37 Second

Kisah foto oleh Nurwijaya Hariadi

Di atas atap-atap seng dan genteng merah yang rapat di Makassar, jalur layang A.P. Pettarani merentang seperti garis lurus di tengah kota yang berliku.

Dari udara terlihat jelas perbedaan itu. Rumah-rumah tinggal, gang-gang kecil, dan halaman sempit milik warga seakan ditepis oleh beton panjang yang ditinggikan, memisahkan arus kendaraan di atas dengan kehidupan pelan di bawah.

Di salah satu ujungnya, papan reklame perumahan Royal Spring berdiri mencolok, memasarkan hunian baru sebagai janji kenyamanan, sementara di sekelilingnya kota berupaya menata diri menghadapi pertumbuhan penduduk dan kendaraan yang terus meningkat.

Pada jam tertentu, jalur itu tampak lengang. Beberapa mobil bergerak cepat di permukaan aspal yang bersih, lampu-lampu jalan berjajar rapi, dan pagar pembatas kuning memandu laju kendaraan menuju pintu keluar berikutnya.

Di bawahnya, arus di jalan utama justru lebih ramai. Sepeda motor, angkot, mobil bak terbuka, dan pejalan kaki saling berbagi ruang, menegosiasikan jarak antar kendaraan dengan insting yang dibentuk bertahun-tahun. Di ruang antar pilar, kota bernapas bersama ritme yang telah lama terbentuk sebelum jalan layang hadir.

Di salah satu foto, seorang pengendara motor roda tiga pemadam kebakaran lorong melintas di bawah girder beton yang besar. Kabin kecil berwarna merah itu membawa gulungan selang dan alat pemadam, bergerak perlahan di antara tiang-tiang penopang. Di kejauhan terpampang reklame biskuit, wajah selebritas tersenyum sambil mengangkat produk ke arah pengendara yang lalu-lalang.

Di persimpangan inilah berbagai lapisan kota bertemu. Mobil-mobil pribadi ber-AC, motor pengantar barang, dan kendaraan darurat berskala kampung berada pada lintasan yang sama, dinaungi bayang-bayang infrastruktur yang dirancang untuk mempermudah mobilitas.

Jika menyusuri sisi bawah jalan layang, kota memperlihatkan wajah lain. Ruang kosong yang terbentuk di antara tiang beton dimanfaatkan untuk deretan pot tanaman, parkir motor, atau tempat warga berhenti sejenak dari terik matahari.

Di sebuah titik, pilar besar bertanda PA02 menampilkan tulisan yang mencolok: “Bebaskan seluruh tahanan politik!!!” Huruf-huruf hitam itu diletakkan di permukaan tiang beton abu-abu, seolah menyisipkan suara berbeda di tengah narasi pembangunan.

Beberapa meter kemudian, stencil merah di pilar bertanda P69 menegaskan kritik lain, “G20 solusi palsu krisis iklim”. Ruang yang awalnya direncanakan sebagai struktur teknis berubah menjadi dinding pernyataan, menampung kegelisahan mereka yang merasa tertinggal di belakang arus pertumbuhan kota.

Kontras ini berulang di banyak sudut Pettarani. Iklan perumahan, produk makanan, hingga billboard kosong bertuliskan “Put Your Ad Here” menghiasi tiang dan sisi jalan. Infrastruktur yang dimaksudkan untuk mengatasi kemacetan sekaligus menyediakan ruang baru bagi ekonomi visual. Di tengah deretan mobil yang merambat pelan saat jam pulang kerja, mata pengendara dipaksa berhadapan dengan promosi gaya hidup dan konsumsi.

Beton yang sama yang menopang jalur lintas cepat juga menopang papan-papan komersial yang bersaing merebut perhatian.

Kemacetan sendiri tetap hadir, terutama di jam sibuk ketika arus dari berbagai arah bertemu di simpang-simpang besar. Jalan layang membantu mengalihkan sebagian kendaraan dari permukaan jalan, namun di titik masuk dan keluarnya terjadi penumpukan baru.

Pertumbuhan wilayah permukiman dan pusat-pusat perdagangan di pinggiran kota mendorong warga untuk semakin bergantung pada kendaraan bermotor. Data tentang penambahan kendaraan di Makassar tiap tahun menunjukkan peningkatan yang konsisten, sementara ruang jalan tidak tumbuh secepat kebutuhan. Jalur layang menjawab kebutuhan jangka pendek untuk mengurai pertemuan arus, tetapi sekaligus mengundang lebih banyak kendaraan untuk melintasi koridor yang sama.

Dalam perspektif ini, foto-foto di sepanjang Pettarani menjadi semacam catatan visual atas dilema pembangunan perkotaan. Di satu sisi, masyarakat memang membutuhkan upaya konkret untuk mengurangi waktu tempuh menuju pusat kota, pelabuhan, bandara, atau kawasan industri. Pembangunan jalan layang menawarkan solusi teknis yang terlihat jelas, sesuatu yang bisa diresmikan, difoto dari udara, dan dijadikan bukti komitmen pemerintah terhadap mobilitas warganya. Di sisi lain, foto-foto dari bawah jembatan memperlihatkan bagaimana kota tetap menjalankan rutinitasnya di ruang yang lebih sempit, dengan polusi udara, kebisingan, dan risiko keselamatan yang kerap menghantui pengguna jalan yang tidak mengakses jalur tol.

Di sekitar papan petunjuk hijau menuju bandara dan pelabuhan, kendaraan aneka jenis bertemu. Mobil keluarga, taksi online, truk kecil pengangkut barang, hingga motor dengan rak besi di belakang berjalan beriringan.

Bagi banyak orang, kepemilikan kendaraan pribadi masih menjadi jawaban paling praktis atas terbatasnya angkutan umum yang nyaman dan terjangkau. Setiap keluarga baru yang mampu membeli motor atau mobil menambah tekanan pada sistem jalan yang ada. Di titik inilah, jalur layang menjadi semacam kompromi, cara cepat memperluas kapasitas tanpa harus membebaskan lahan yang luas di permukaan.

Namun, sebagaimana terekam di rangkaian foto ini, kompromi itu datang dengan harga sosial dan ekologis. Ruang kota yang dulu saling terhubung kini terbelah oleh dinding-dinding besar yang sulit diseberangi pejalan kaki. Suara kendaraan di atas menjadi latar permanen bagi warga yang rumahnya berada tak jauh dari kaki jembatan.

Di saat yang sama, suara lain menyelinap lewat grafiti politik dan pesan lingkungan di pilar-pilar beton, mengingatkan bahwa pembangunan tidak pernah murni teknis. Ia selalu menyangkut keputusan tentang siapa yang diutamakan, siapa yang harus beradaptasi, dan siapa yang merasa tidak lagi punya tempat.

Ketika senja turun, lampu-lampu di bawah jalan layang menyala, memantulkan cahaya kuning di badan mobil yang merambat.

Dari ketinggian, garis beton itu tampak seperti sungai kendaraan yang tenang. Dari bawah, yang terlihat adalah wajah-wajah lelah di balik helm dan kaca mobil, menanti pergantian lampu lalu lintas di antara deretan papan iklan yang terus berkedip.

Di sanalah foto-foto ini mengambil perannya, bukan hanya sebagai dokumentasi infrastruktur baru, tetapi sebagai pengingat bahwa setiap tiang dan balok menyimpan cerita tentang kota yang terus bertumbuh, bergulat dengan kemacetan, dan mencari jalan keluar di antara ambisi dan kenyataan.

*dmd