Jalan yang Menguji, Tanjakan Panjang dan Percakapan Sunyi

Jalan yang Menguji, Tanjakan Panjang dan Percakapan Sunyi

Read Time:8 Minute, 29 Second

Bagian II dari Tetralogi Esai Reflektif Observasi Sosio-Ekologis Sembilan Puncak Pegunungan Latimojong (23-27/03/2026) oleh Darmadi H. Tariah

Pagi di Puncak Pentialloan datang pelan-pelan, tanpa tergesa. Cahaya tidak serta-merta menyergap, tetapi merambat perlahan. Ketenangan pagi seolah jadi kelanjutan malam yang telah menuntaskan sesuatu yang tak selesai oleh pikiran.

Pentialloan secara harfiah berarti tempat berjemur. Entah apa makna sebenarnya, tetapi puncak ini menjadi salah satu titik yang cenderung lebih cepat terkena sinar matahari pagi dibanding bentangan lain sejajarannya.

Saya segera mengambil kamera, mengitari area puncak yang tidak terlalu luas.

Saya memotret bebungaan dan daun-daun mungil yang basah, membingkai hal-hal kecil. Keempat rekan saya juga sedang menikmati suasana, memasak sepenuh gairah.

Kami tidak buru-buru. Bahkan, jika boleh jujur, kami seperti sengaja memperlambat diri. Sarapan berlangsung santai. Tidak ada dorongan untuk segera mengangkat ransel. Tidak ada kegelisahan terhadap waktu. Kami menikmati pagi itu selama mungkin, seakan tahu bahwa bagian-bagian seperti ini tidak akan sering datang dalam perjalanan yang panjang.

Baru sekitar pukul sepuluh pagi kami benar-benar melanjutkan langkah.

Jalur menuju Pos IV di Gunung Poka Pinjan terasa seperti jeda yang disiapkan dengan baik. Poka Pinjan sendiri secara harfiah berarti piring pecah. Gunung ini terletak di ujung barat daya pegunungan Latimojong.

Kami menikmati jalur ini semaksimal mungkin. Landai, bahkan sesekali menurun. Setelah hari pertama yang keras, bagian ini seperti tangan yang menepuk pelan bahu kami, memberi ruang untuk bernapas lebih panjang. Langkah menjadi ringan tanpa harus dipaksakan.

Yang paling membekas justru bukan jalurnya, melainkan apa yang mengelilinginya. Vegetasi pegunungan, dihiasi renda-renda akar angin, berlapis lumut tebal, menggantung di batang pohon, membungkus hampir seluruh lanskap dengan warna hijau yang lembap. Ada kesan tua di sana, seperti ruang yang telah lama hidup tanpa banyak campur tangan manusia.

Tidak semua tempat menawarkan pemandangan seperti itu.

Dan mungkin karena itu pula, keberadaannya begitu jujur bersahaja.

Kami tiba di Pos V menjelang siang. Waktu yang cukup untuk berhenti lebih lama. Kami menunaikan shalat jamak dhuhur dan asar, lalu makan dengan tenang. Ada sesuatu yang berbeda ketika ibadah dilakukan di tempat seperti ini. Tidak ada sekat, tidak ada distraksi. Hanya ada diri sendiri dan ruang yang luas. Saya tidak tahu apakah itu yang membuatnya terasa lebih dekat, atau justru saya yang sedang lebih terbuka.

Selepas itu, kami kembali berjalan.

Target kami jelas, Pos VII.

Seperti hari sebelumnya, ritme tim mulai terurai. Saya kembali berjalan beriringan dengan Rifai. Kami tidak banyak bicara. Kadang saling mendahului, kadang berdampingan dalam diam. Tiga rekan lainnya sudah jauh di depan, terpaut puluhan menit. Tidak ada yang merasa harus menyamakan langkah. Gunung tidak pernah menuntut keseragaman. Gunung justru memperlihatkan bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Sore bergerak begitu saja.

Di pertengahan tanjakan Buntu Tillok yang kami lalui setelah hujan, saat semakin lelah, di situlah saya bertemu kolibri hitam pertama kali. Tillok dalam Bahasa Duri berarti paruh burung atau unggas.

Niat untuk tidak berjalan malam kembali tidak berhasil ditunaikan. Langit mulai meredup sementara saya dan Rifai belum juga tiba di Pos VII. Ada sedikit rasa tidak nyaman, tetapi tidak lagi panik seperti hari pertama. Barangkali, diri mulai belajar menerima bahwa tidak semua rencana bisa berjalan seperti yang dibayangkan.

Kami terus berjalan hingga cahaya benar-benar menipis.

Pada sebuah turunan beberapa menit setelah Pos VII, saya mendengar suara-suara dari bawah. Riuh, bercampur tawa, percakapan, dan bunyi-bunyi lain yang tidak asing. Saya tahu, di sanalah lokasi perkemahan.

Saya dan Rifai tidak langsung turun. Kami justru berhenti, lalu merebahkan tubuh di jalur. Lelah seperti akhirnya menemukan tempatnya. Di atas kami, langit malam terbuka lebar. Bintang-bintang berusaha keras menampakkan dirinya. Mencari celah-celah awan dan kabut yang juga sedang mempertaruhkan eksistensinya.

Kami diam cukup lama.

Mendengarkan suara dari bawah, sambil menatap langit di atas.

Dua dunia yang berjarak hanya beberapa meter, tetapi terasa sangat berbeda.

Di bawah sana, keramaian.
Di tempat kami berbaring, kesunyian.

Saya tidak tahu mengapa, tetapi momen itu terasa penting. Seperti sebuah jeda yang tidak direncanakan, tetapi justru diperlukan.

Malam kedua kami habiskan di perkemahan itu.

Di sanalah saya mengalami sesuatu yang sejak awal ingin saya hindari.

Malam di gunung tetapi malah terasa seperti di lorong-lorong kota. Keheningan yang jadi salah satu tawaran terbaik dari gunung, terasa zonk. Istirahat jelas terganggu.

Tenda-tenda berdiri rapat. Suara percakapan tidak berhenti. Bahkan hingga menjelang dini hari, beberapa orang masih berbicara dengan suara keras. Tidak ada kesadaran bahwa ada orang lain yang butuh tidur. Saya mencoba memejamkan mata berkali-kali, tetapi gagal. Tubuh lelah, tetapi pikiran tidak mendapat kesempatan untuk benar-benar beristirahat.

Di momen seperti itu, saya kembali pada satu batas yang sejak awal terasa jelas.

Jangan merusak.

Merusak tidak selalu berbentuk sampah yang ditinggalkan di jalur. Berbuat kerusakan bisa terjadi dalam bentuk yang lebih halus. Bisa dalam sikap, dalam ketidakpedulian, dalam cara seseorang menempatkan dirinya di ruang bersama.

Ketika suara digunakan tanpa pertimbangan, ketika kehadiran kita mengganggu orang lain, di situ ada sesuatu yang retak. Ketenangan retak, rasa saling menghormati turut retak bersamanya.

Pagi datang dengan wajah yang muram.

Langit tertutup awan tebal. Segala sesuatu terasa basah oleh sisa kabut malam. Seperti hari sebelumnya, kami tetap memilih untuk tidak terburu-buru. Sarapan berlangsung santai, kelembaman terasa tebal, ingin tiduran saja di tempat itu.

Kami baru kembali berjalan menjelang pukul sebelas siang.

Hari itu, perjalanan akan melintasi dua puncak, Puncak Tinabang, dan akhirnya Rante Mario.

Perjalanan langsung dibuka dengan tanjakan yang segera menguji. Jalur terasa berat, terasa panjang. Nafas kembali tersengal. Langkah melambat. Bonus kadang hadir tak disangka-sangka, kondisi fisik sepertinya telah mengalami penyesuaian. Pegal-pegal badan mulai mereda.

Benar saja, tidak begitu lama, kegembiraan tubuh itu berjumpa ujiannya yang paling nyata. Puncak Tinabang segara menghadang, tanjakannya paling panjang, seolah tidak memiliki ujung.

Tinabang persis seperti namanya, semacam wajah atau kepala gunung, di mana sisi-sisinya adalah tebing-tebing tegak lurus. Seperti itu pula jalur tanjakannya, seringkali hampir mempertemukan lutut dan dagu saat mendakinya.

Medan berat seperti sisi-sisi Tinabang punya beberapa istilah dalam bahasa Duri, seperti patiang atau awak minting. Salah seorang pendaki dari kelompok lainnya yang berpapasan dengan saya di jalur itu menyebutnya rinding yang berarti dinding tegak lurus.

Vegetasi puncak yang pendek-pendek tetapi lebat membuat perjalanan terasa sedikit lebih menyenangkan. Tidak terlalu terbuka, tidak pula terlalu tertutup.

Saya mengingatkan diri sendiri untuk menikmati Tinabang seutuh mungkin. Bukankah keadaan seperti ini adalah janji pasti dari gunung yang tak pernah ia ingkari? Dan karenanya kita ingin memasukinya?

Di tengah-tengah tanjakan, saya bertemu lagi dengan kolibri hitam itu.

Ia muncul seperti kemarin. Menari ringan di antara ranting-ranting. Gerakannya cepat, hampir tak tersentuh. Kicaunya terdengar seperti sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi tidak perlu diterjemahkan.

Saya berhenti sejenak.

Entah mengapa, kehadirannya selalu terasa seperti pengingat. Bahwa ada cara lain untuk berada di ruang ini.

Saya melanjutkan langkah dengan ritme yang sama. Tetap tidak terburu-buru. Tidak pula memaksa diri. Pelan-pelan saja.

Tanjakan Tinabang memang paling berat, hanya saja terasa lebih ikhlas melewatinya.

Setelah Tinabang, saya memotret lagi entitas-entitas kecil yang menarik pandangan. Saya bermaksud merekam yang mungil di alam luas di punggunan puncak pegunungan.

Saya bahkan berhenti sendiri lama-lama, bersenandung, bersiul dengan nada yang entah. Seolah sedang memainkan seruling To Duri meski saya tuna instrumen. Berupaya membangun harmoni dengan vegetasi kambola, batuan puncak, lumut, kabut, dan angin.

Menjelang pukul tiga sore, saya tiba di puncak Rante Mario.

Puncak itu ramai. Rante yang berarti padang luas dan mario yang berarti berbahagia, tepat menggambarkan tempat ini. Saya menjumpai banyak wajah penuh kebahagian di puncak tertinggi pegunungan ini.

Pendaki mengerubuti tugu triangulasi. Sebagian berfoto, sebagian berdiam di bawah flysheet, menghalau dingin. Saya berdiri sejenak, mengamati semuanya. Kebahagiaan di wajah-wajah itu seolah menjadi pembayaran lunas kepada segala lelah yang perlahan diserap alam.

Saya tidak tinggal lama.

Tidak sampai satu jam.

Ada perasaan bahwa puncak ini bukan tempat untuk menetap. Puncak ini memanglah titik penting, tetapi bukan akhir.

Saya melanjutkan langkah menurun ke Rante Kambola.

Berjalan sendiri di antara Rante Mario dan Rante Kambola. Kambola adalah nama salah satu jenis pohon yang banyak tumbuh di gunung ini. Saya tidak tahu arti katanya dalam Bahasa Indonesia.

Saya mengamati jalur yang landai, tetapi licin, berlumpur, melar, meluber, melebar, dan mendalam. Jalur ini memang telah menanggung beban jutaan jejak pendaki.

Hari itu terasa berbeda. Saya tiba sekitar pukul empat lewat sedikit. Masih ada cukup waktu untuk menikmati sore. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu dikejar malam. Rekan-rekan setim saya segera menyusul di belakang.

Di Rante Kambola, kami bertemu kembali dengan tim yang sempat berpapasan di jalur, kawan-kawan dari Advocational Adventure. Empat orang, satu perempuan. Kami sempat mengobrol di antara Tinabang dan Rante Mario, percakapan yang mengalir tanpa banyak rencana, tetapi menghasilkan rencana.

Di tempat ini, kedua tim itu kembali bertemu.

Kami lebih dulu tiba. Mereka menyusul, lalu mendirikan tenda berdekatan dengan kami. Tanpa disadari, jarak yang sebelumnya asing perlahan menjadi akrab. Gunung memang punya cara sendiri untuk mempertemukan orang-orang tanpa perlu banyak penjelasan.

Hanya saja, di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganggu saya.

Sampah.

Di sepanjang jalur dari Pentialloan hingga Rante Mario, bahkan di sekitar perkemahan ini, sampah berserakan. Plastik, jas hujan, selimut darurat, botol-botol plastik minuman, bungkus makanan, sisa-sisa yang ditinggalkan begitu saja. Di beberapa titik, bahkan sudah menumpuk seperti bukit kecil.

Pemandangan itu terasa janggal.

Di satu sisi, orang-orang datang ke sini untuk mencari sesuatu, barangkali ketenangan, tantangan, atau mungkin jawaban atas pertanyaan dalam diri mereka. Tetapi di sisi lain, mereka meninggalkan sesuatu yang justru merusak ruang yang mereka datangi.

Saya kembali pada satu hal yang sejak awal terasa penting.

Mendaki gunung adalah aktivitas yang baik. Menyehatkan tubuh. Melatih mental. Membuka ruang bagi refleksi yang jarang terjadi di tempat lain.

Tetapi semua itu hanya akan bermakna jika disertai kesadaran.

Tanpa itu, perjalanan ini hanya akan menjadi lintasan fisik yang kosong.

Petang di Rante Kambola perlahan turun. Cahaya menguning, angin berhembus pelan. Tubuh lelah, tetapi ada abstraksi kejernihan.

Dan di antara semua itu, percakapan yang tidak terdengar itu masih terus berlangsung.

Pelan.

Tetapi semakin jelas.