Bagian I dari Tetralogi Esai Reflektif Observasi Sosio-Ekologis Sembilan Puncak Pegunungan Latimojong (23-27/03/2026) oleh Darmadi H. Tariah
Seekor burung kolibri hitam meloncat-loncat genit dari ranting ke ranting, di antara dedaunan basah di pucuk-pucuk pohon kambola. Kabut tipis perlahan menebal, bumbung meninggi. Menarik kembali air ke udara, pelan-pelan menyelimuti leher puncak Buntu Tillok. Mengabarkan gelap akan datang tidak lama lagi.
Hujan sebelumnya menyisakan angkasa terbuka di ujung sore. Barangkali kesentosaan itu pula yang membuat kolibri hitam bernyanyi dan menari sebebas mungkin. Seolah memamerkan kemerdekaan paripurna kepadaku yang berjarak hanya sekitar tiga meteran saja darinya. Aku yang sedang memburu nafas, sedang mengurai peluh kepayahan menapaki tanjakan, takjub mengamati tariannya.
Sembari menyesap lelah dalam diam menonton konser kolibri hitam, ingatan membawaku kembali ke awal perjalanan ini.
Kami berangkat dari Angin-angin saat matahari mulai tergelincir ke barat. Di benak saya, jalur pendakian Latimojong via Angin-angin ini akan sepi, tetapi saya salah. Setidaknya, ada dua rombongan lain yang hampir bersamaan dengan kami, hanya berjarak beberapa menit di depan kami. Saya mengira, jalur ini kurang difavoritkan pendaki dibanding via Karangan. Sepertinya jalur Angin-angin memang semakin populer beberapa tahun terakhir.
Barangkali karena musim libur lebaran, jadi jalur ini akan ramai juga. Libur Lebaran selalu menghadirkan wajah yang berbeda pada jalur pendakian. Orang-orang berdatangan dari berbagai sudut ruang, membawa ransel, membawa cerita, membawa alasan masing-masing.
Saya berjalan bersama Syahrul Parigi, M. Zulqadar N., M. Rifai, dan Tasnim Zubair, perlahan menjajaki jalan tani menuju gerbang rimba. Kami datang sebagai bagian dari Pohon Pustaka, Enrekang. Tidak ada seremoni khusus saat langkah pertama diambil, tidak ada pidato pembuka. Hanya langkah-langkah yang mulai bergerak, pelan tapi pasti, meninggalkan keramaian yang perlahan memudar di belakang.
Saya menyadari bahwa gunung selalu menjadi ruang yang aneh. Gunung selalu menerima siapa saja, dengan alasan apa saja. Dan hampir semua alasan itu terasa masuk akal. Ada yang datang untuk berolahraga, menguji tubuhnya. Ada yang ingin mengisi waktu libur. Ada yang mencari sunyi. Ada pula yang sekadar ikut-ikutan, tanpa tahu benar apa yang sedang dicari.
Saya kira, jika ada seribu orang mendaki gunung di waktu yang sama, barangkali sebanyak itu pula alasan khusus orang mendaki gunung. Bagi saya, hampir semuanya sah-sah saja.
Hanya saja, di antara sekian banyak alasan itu, ada satu yang terasa ganjil. Mengapa banyak juga yang berkeinginan untuk menaklukkan gunung?
Saya tidak pernah benar-benar memahami dorongan itu. Gunung bukanlah sesuatu yang berdiri di hadapan kita untuk ditundukkan. Ia tidak menantang, tidak pula mengundang. Gunung hanya ada, dengan caranya sendiri, dengan hukum-hukumnya sendiri. Mendaki gunung dengan niat menaklukkannya terasa seperti kesalahpahaman sejak awal, seolah-olah manusia lupa bahwa dirinya hanya tamu di bentang yang jauh lebih tua dan jauh lebih sabar.
Saya hanya tau, bahwa motivasi penaklukan adalah motivasi kolonial. Beruansa hitam pekat egosentrisme. Motivasi penaklukan yang dulu menahkodai bangsa-bangsa Eropa melakukan penjajahan di sebagian besar muka bumi.
Langkah demi langkah membawa kami masuk lebih dalam ke tubuh Pegunungan Latimojong. Saya tidak tahu pasti apa makna dari nama pegunungan ini. Guru saya pernah mengatakan jika nama pegunungan ini dinisbahkan ke seorang sosok bernama La Timojong, yang hidup jauh di masa lalu. Dia adalah seorang panglima perang suatu kerajaan di pulau lain, tetapi suatu waktu kembali ke tanah kelahirannya dan bermukim di ujung selatan pegunungan ini hingga akhir hayatnya.
Di sisi lain, saya juga membangun silogisme morfologi rumpun Bahasa Tae yang secara fonematik berdekatakan dengan bunyi Latimojong. Rumpun Bahasa Tae digunakan masyarakat yang mendiami sekeliling area pegunungan ini. Silogisme ini saya bangun dengan latar konteks bahwa, di masa lalu, penamaan tempat-tempat khusus selalu dilandaskan pada kosmologi kepercayaan masyarakatnya, yang bersifat ekologis-transenden, sehingga bentangan majestic pegunungan ini semestinya memiliki nama yang baik, yang bisa menggambarkan fungsi dan kedudukannya dengan tepat, baik secara fisik maupun non fisik.
Salah satu bahasa tua dalam rumpun Tae memiliki kata “boyong” yang artinya kira-kira sepadan dengan surga. Jika menjadi “La ti boyong” yang artinya “menjelang surga”, bunyinya dekat dengan “Latimojong.” Apakah kosa kata “mojong” adalah hasil morfologi “boyong”, ataukah “mojong” adalah pengucapan “boyong” oleh sebagian masyarakat berbahasa rumpun Tae, keduanya masih jadi pertanyaan saya.
Mungkin juga ada makna lain yang belum saya temui.
Kami terus berjalan. Semakin jauh memasuki Latimojong, suara-suara manusia makin berkurang, digantikan oleh desir angin, oleh gesekan dedaunan, oleh bunyi-bunyi kecil yang tidak selalu bisa dikenali. Pelan-pelan, percakapan berubah arah. Bukan lagi percakapan antar kami, tetapi percakapan yang terjadi diam-diam di dalam diri masing-masing.
Mayoritas waktu dalam pendakian, saya sadari, tidak melulu mengenai perjalanan bersama orang lain, tetapi tentang perjalanan bersama diri sendiri. Jalan setapak yang dilalui seolah menjadi jalur masuk ke ruang yang jarang dikunjungi dalam kehidupan sehari-hari. Pikiran yang biasanya bising mulai mereda. Yang tersisa adalah fragmen-fragmen pertanyaan yang muncul tanpa diundang, tak ingin berhenti.
Mengapa saya di sini?
Apa yang sebenarnya saya cari?
Tidak selalu ada jawaban. Tetapi barangkali tanya inilah yang perlu jawaban paling jelas, tegas, paling solid dan pasti!
Di sela perjalanan, kami berpapasan dengan banyak pendaki lain. Sebagian saling menyapa, sebagian hanya bertukar pandang. Saya melihat beragam ekspresi di wajah mereka. Ada kegembiraan, kelelahan, tekad, bahkan keraguan. Semua hadir bersamaan, seperti lapisan-lapisan emosi yang tidak selalu rapi.
Saya kembali berpikir, semua orang ini sedang berjalan dengan alasan masing-masing. Dan semua alasan itu sah. Gunung tidak pernah menolak siapa pun berdasarkan motifnya. Ia tidak memilih siapa yang layak dan siapa yang tidak.
Satu-satunya batas, yang terasa begitu jelas, adalah jangan merusak.
Merusak bukan hanya soal membuang sampah sembarangan, meskipun itu adalah bentuk paling kasat mata. Merusak juga bisa hadir dalam sikap, dalam cara memperlakukan sesama pendaki, dalam cara memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Bahkan, mungkin, merusak juga bisa terjadi di dalam diri sendiri, yaitu ketika perjalanan seperti ini hanya dijadikan alat untuk membesarkan ego.
Salah satu elemen paling penting dalam kegiatan mendaki gunung adalah manajemen waktu dalam pendakian. Mendaki Latimojong via Angin-angin juga sama, membutuhkan manajemen waktu yang presisi. Satu hal ini yang paling ditekankan rekan-rekan di Pohon Pustaka yang telah beberapa kali melewati jalur ini. Saya menyadari kebenaran itu ketika telah terjerumus ke dalam kondisi “terlanjur.”
Gelap terlanjur datang sementara tujuan perjalanan masih jauh. Kami bahkan belum sampai Pos II sementara rencana berkemah di puncak pertama, Pentillioan, entah kapan bisa sampai.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika kami berhenti di Pos II. Tidak ada di antara kami yang ingin menginap di situ. Meskipun jalur Pos II ke Pos III adalah tanjakan panjang tanpa rasa kasihan.
Pentialloan, jadi tujuan bermalam pertama. Puncak ini seakan menjadi gerbang pembuka. Tidak terlalu tinggi dibandingkan yang lain, tetapi cukup untuk memberi tanda bahwa perjalanan ini tidak akan ringan.
Tanah yang lembap, akar-akar yang menonjol, dan tanjakan yang sedari awal menguji napas, menjadi pengantar yang jujur, bahwa tubuh akan dilibatkan sepenuhnya dalam perjalanan ini. Inilah masalah sebenarnya sebab malam semakin beranjak sementara perjalanan masih jauh. Kondisi tubuh semakin lelah dan jeritan lambung semakin kencang.
Di titik-titik seperti itu, saya merasakan sesuatu yang sederhana tetapi penting. Semacam mekanisme menyemangati diri sendiri, bahwa mendaki gunung adalah aktivitas yang baik bagi tubuh dan jiwa. Keringat yang mengalir, napas yang terengah, otot yang menegang, semuanya bekerja bersama, membentuk semacam kesadaran tentang keberadaan diri. Tubuh menjadi wadah jiwa yang sedang aktif merajah pengalaman.
Ada dimensi lain yang perlahan terbuka. Pendakian ini seperti sebuah pendidikan yang mengajarkan ketahanan tanpa ceramah, mengajarkan kesabaran tanpa instruksi. Tidak ada kurikulum, tetapi setiap tanjakan adalah ujian. Tidak ada pengajar, tetapi setiap kelelahan adalah pelajaran.
Semakin jauh kami berjalan, semakin terasa bahwa pegunungan ini bukanlah ruang fisik semata. Ia seperti cermin yang memantulkan kembali apa yang kita bawa. Jika kita datang dengan kegelisahan, ia akan memperjelas kegelisahan itu. Jika kita datang dengan ketenangan, ia akan memperdalamnya.
Dan jika kita datang dengan niat untuk menaklukkan, barangkali yang akan kita temui justru adalah batas-batas diri yang selama ini kita abaikan.
Malam semakin larut ketika akhirnya sampai juga di Puncak Pentialloan. Bayangan mengawali hari esok dengan langsung menghadapi tanjakan yang baru saja dilewati itu telah menguap bersama kepul-kepul kehangatan makan malam yang telat.
Hadiah pertama dari perjalanan ini adalah kemenangan melawan diri yang nyaris menyerah di jalur. Keistimewaan sederhana adalah ketika sedang bersusah payah menggapai tujuan tetapi tercapai secara tiba-tiba, tidak disangka-sangka. Segenap letih luruh dalam pelukan malam. Berganti lega di kejauhan malam damai di Pentialloan.
Ada alasan kuat mengapa harus bermalam di Pentialloan. Agar besok bisa memulai hari tidak dengan langsung menanjak. Jalur pembuka akan cenderung landai saja, sehingga efisiensi perjalanan lebih mungkin menggapai tujuan berkemah di Pos VII.
Ketika saya kembali ke momen di mana kolibri hitam itu menari di hadapan saya, saya menyadari sesuatu yang sederhana, bahwa burung kecil itu tidak sedang menaklukkan apa pun. Kolibri itu hanya hidup, sepenuhnya, di ruang yang ia kenal. Gerakannya ringan, bebas, tanpa beban ambisi.
Saya, dengan napas yang tersengal dan tubuh yang lelah, justru belajar dari makhluk sekecil itu tentang arti berada di suatu tempat tanpa keinginan untuk menguasainya.
Perjalanan ini baru saja dimulai. Kami belum mencapai puncak-puncak yang lebih tinggi, belum menapaki lintasan yang lebih berat. Tetapi, ada samar yang semakin tampak.
Cara saya memandang perjalanan ini semakin menegaskan rupanya.
Saya tidak sedang berupaya untuk mencapai sesuatu di luar sana, tetapi sedang merayakan kesempatan untuk mendengarkan sesuatu yang selama ini tertutup oleh riuh kehidupan.
Langkah kembali saya lanjutkan. Kabut semakin turun. Remang perlahan merayap. Kolibri hitam itu entah sudah ke mana. Tetapi jejak pertemuan singkat itu tertinggal, diam-diam, seperti isyarat awal bahwa perjalanan ini akan membawa saya ke tempat-tempat yang tidak selalu terlihat di peta.










