Ruang hidup adalah cermin dari cita-cita dan kontradiksi manusia. Di dalamnya, mimpi tentang kebebasan, keadilan, dan kesetaraan tumbuh berdampingan dengan bayang-bayang ketimpangan, peminggiran, dan penghapusan harapan hidup. Pameran ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana jika hak asasi manusia dibayangkan bukan hanya sebagai prinsip hukum semata, melainkan juga sebagai ruang hidup bersama sebagai sebuah imajinasi kolektif?
Pameran ini adalah bagian dari kelas Studi Hak Asasi Manusia pada Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa. Sebagai sebuah upaya belajar yang memungkinkan untuk melihat realitas sebagai bagian penting dari proses sekaligus dibayangkan dapat menjadi katalis serta komitmen tentang nilai hak asasi manusia yang melekat dalam pikiran dan pengalaman.
Dalam pameran foto Perihal Ruang Hidup dan Imajinasi Kolektif Hak Asasi Manusia, para peserta kelas tidak sekadar membidik realitas, tetapi menggunakan lensa sebagai bahasa untuk membicarakan kemanusiaan.
Menatap realitas sebagai langkah awal untuk mempertanyakan situasi adalah cara sederhana untuk menguji pemahaman yang akan membawa percakapan ini ke ruang publik yang lebih luas.
Foto-foto yang ditampilkan di sini bukan sekadar hasil tangkapan momen, tetapi serpihan pengalaman tentang bagaimana manusia hidup, berjuang, dan bermimpi di tengah ruang yang terus berubah, ruang yang kadang melindungi, kadang melukai tapi berhenti untuk didoakan menjadi lebih baik.
Pameran ini lahir dari kesadaran bahwa hak asasi manusia tidak pernah hadir di ruang hampa. Ia selalu berkelindan dengan ruang hidup yang konkret: kota, kampung, tepi jalan, rumah, tangga kampus, dan bahkan tubuh manusia itu sendiri. Melalui pandangan visual, para fotografer mengajak kita menelusuri bagaimana imajinasi tentang keadilan, kebebasan, dan martabat manusia mewujud, atau justru direnggut, di dalam ruang-ruang tersebut.
